Pemprov Lampung Akui Masa Tanam Turun Akibat KJA di Bendungan Way Rarem
Rimadani Eka Mareta
Bandarlampung
RILISID, Bandarlampung — Upaya menjaga ketahanan pangan di Provinsi Lampung kembali mendapat sorotan setelah kondisi Bendungan Way Rarem di Kabupaten Lampung Utara kian mengkhawatirkan.
Selain meningkatnya jumlah keramba jaring apung (KJA) yang menekan daya dukung waduk, musim kering yang memengaruhi suplai air juga dikhawatirkan berdampak pada keberlangsungan pertanian, khususnya padi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Lampung, Elvira Umihanni, menegaskan bahwa ketersediaan air menjadi faktor paling krusial dalam menjaga produktivitas pertanian.
Menurutnya, masa tanam padi memang tetap berada pada kisaran normal, dengan usia panen sekitar tiga bulan. Namun, persoalan muncul ketika daya tampung bendungan terganggu.
“Berpengaruhnya terhadap daya tampung bendungan sehingga ketersediaan air untuk mengairi sawah dapat berkurang. Jadi kalau musim kering itu alirannya akan sedikit terganggu,” ujar Elvira.
Ia menambahkan, saat tidak musim hujan, pemenuhan kebutuhan air untuk pertanaman padi dapat mengalami penurunan signifikan.
Situasi ini kian diperburuk dengan kondisi Bendungan Way Rarem yang saat ini menghadapi tekanan ekologis dan teknis akibat maraknya KJA.
Sebelumnya diberitakan, jumlah KJA mencapai sekitar 220 unit—jauh di atas kapasitas ideal. Aktivitas budidaya yang setiap hari menebarkan pakan ikan berton-ton menyebabkan penumpukan sisa pakan dan kotoran ikan. Dampaknya bukan hanya pencemaran air, namun juga gangguan teknis waduk hingga potensi konflik sosial.
Tak hanya itu, hasil survei BBWS Mesuji Sekampung menunjukkan sekitar 70 persen permukaan waduk telah tertutup gulma, terutama eceng gondok dan kiambang. Estimasi luasan gulma kini mencapai 1,9 juta meter persegi dengan ketebalan 20–25 sentimeter. Permasalahan ini menghambat fungsi hidrolis waduk, mempercepat sedimentasi, dan meningkatkan risiko pendangkalan.
Eka Kurniawan, Pejabat Pembuat Komitmen Operasi dan Pemeliharaan SDA III BBWS Mesuji Sekampung, memaparkan bahwa Waduk Way Rarem pada awalnya dibangun untuk mendukung irigasi, pengendalian banjir, dan pariwisata. Namun sejak 1998, waduk mulai dimanfaatkan untuk budidaya KJA yang kala itu hanya berjumlah 30 unit, sebelum akhirnya melonjak tajam.
Bendungan way rarem
pertanian
keramba
Lampung
dinas kptph Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
