Pemprov Lampung Akui Masa Tanam Turun Akibat KJA di Bendungan Way Rarem
Rimadani Eka Mareta
Bandarlampung
Pada 2021, jumlahnya sempat mencapai 684 unit. Meski kini telah berkurang, Eka menegaskan bahwa dampaknya masih serius.
“Sedimentasi tinggi, berkurangnya luas layanan irigasi, hingga penurunan kualitas air yang merusak pintu-pintu bendungan. Volume efektif untuk irigasi bahkan berkurang hingga 8 juta meter kubik,” jelasnya.
Sejumlah upaya penanganan telah disiapkan, mulai dari penggunaan mesin pemotong gulma, kapal pembersih, pengangkutan darat, hingga gotong royong bersama masyarakat dan TNI. Gulma akan dimanfaatkan sebagai kompos, pakan ternak, maupun bahan kerajinan. Untuk KJA, akan diterapkan zonasi, pembatasan jumlah, hingga relokasi dan penyediaan alternatif usaha.
BBWS menegaskan perlunya dukungan penuh dari pemerintah daerah hingga tingkat provinsi, serta kerjasama warga agar waduk dapat dipulihkan.
“Kalau penanganannya rampung, waduk akan kembali optimal—baik dari sisi ekologis, sosial, maupun ekonomi,” ujar Eka.
Dalam konteks ketahanan pangan Lampung, masalah ini menjadi alarm serius. Jika aliran air ke sawah terganggu akibat sedimentasi dan menurunnya kapasitas tampung waduk, produksi padi akan ikut terdampak. Hal ini selaras dengan peringatan Elvira Umihanni, bahwa kebutuhan air bagi pertanian tidak bisa ditawar.
Dengan kondisi waduk yang semakin tercekik gulma dan aktivitas KJA yang tidak terkendali, ditambah ancaman musim kering, Lampung menghadapi tantangan ganda dalam menjaga ketersediaan pangan. Pemerintah kini berpacu dengan waktu untuk memastikan Bendungan Way Rarem kembali berfungsi optimal demi melindungi ribuan hektare sawah yang bergantung pada pasokan airnya. (*)
Bendungan way rarem
pertanian
keramba
Lampung
dinas kptph Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
