Pemprov Perkuat Pengendalian Inflasi, Sejumlah Bahan Pangan Dalam Pantauan Ketat
Rimadani Eka Mareta
Bandarlampung
Sementara itu, berdasarkan rilis BPS pada 5 Januari 2025, Provinsi Lampung berhasil mencatatkan kinerja positif dengan menempati peringkat kedua daerah dengan inflasi terendah secara nasional, yakni 1,25 persen, setelah Sulawesi Utara sebesar 1,23 persen.
Menutup arahannya, Mendagri mengajak seluruh pemerintah daerah untuk terus memperkuat koordinasi dan mengambil langkah konkret dalam pengendalian inflasi.
"Kalau suplai kurang, kita tambah. Kalau distribusi macet, harus didorong. Ini membutuhkan dukungan semua pihak, baik pemerintah pusat maupun daerah, agar inflasi tetap terkendali," pungkasnya.
Usai mengikuti rapat koordinasi, Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Provinsi Lampung, Bani Ispriyanto, menyampaikan bahwa kondisi inflasi di Provinsi Lampung hingga saat ini masih terkendali dengan baik.
"Sampai dengan saat ini inflasi kita masih terkendali dengan baik. Di tingkat nasional memang naik sedikit menjadi 2,92 persen, tetapi masih dalam rentang yang normal dan belum menyentuh angka 3 persen sebagaimana arahan dari Bapak Menteri Dalam Negeri," ujar Bani.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah diminta untuk terus menjaga inflasi agar tidak melewati batas psikologis tersebut, mengingat dampaknya akan lebih dirasakan oleh masyarakat kelas menengah ke bawah.
"Kalau sampai menyentuh angka 3 persen, dampaknya akan mulai terasa, terutama bagi masyarakat kelas bawah. Karena itu kita diminta untuk terus menahan dan mengendalikan inflasi," tambahnya.
Bani juga menjelaskan bahwa ketersediaan stok bahan pokok di Provinsi Lampung saat ini masih aman. Namun demikian, terdapat beberapa komoditas yang perlu diwaspadai pergerakan harganya.
"Stok masih tersedia dengan baik. Hanya ada beberapa komoditas yang perlu kita waspadai seperti cabai, bawang merah, telur, dan daging ayam. Tetapi sampai saat ini, harganya masih relatif terkendali," jelasnya.
Terkait harga telur ayam ras yang di sejumlah pasar mencapai Rp30.000 per kilogram, Bani menyebutkan bahwa kondisi tersebut masih bersifat fluktuatif dan belum melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).
Inflasi
Lampung
harga pangan
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
