OAIL Itera Beri Penjelasan Lengkap Fenomena Benda Jatuh Antariksa Gegerkan Langit Lampung

Rimadani Eka Mareta

Rimadani Eka Mareta

Bandarlampung

5 April 2026 13:56 WIB
Peristiwa | Rilis ID
Foto ist
Rilis ID
Foto ist

RILISID, Bandarlampung —Fenomena cahaya merah disertai dentuman yang melintas di langit Lampung dan sejumlah wilayah Sumatra bagian selatan hingga Jawa Barat pada 4 April 2026, sempat menggemparkan masyarakat dan ramai diperbincangkan di media sosial.

Peristiwa tersebut kini telah teridentifikasi sebagai masuknya kembali (re-entry) sampah antariksa berupa badan roket CZ-3B R/B milik Tiongkok ke atmosfer Bumi.
Kepala Pusat Observatorium Astronomi Itera Lampung (OAIL), Dr. Annisa Novia Indra Putri, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa objek tersebut merupakan bagian dari roket peluncur Long March 3B yang sebelumnya digunakan dalam misi peluncuran satelit pada Januari 2025.
“Fenomena yang terlihat di langit Lampung merupakan peristiwa re-entry dari sampah antariksa, yakni badan roket CZ-3B R/B. Objek ini sebelumnya berada di orbit rendah Bumi dan mengalami penurunan orbit akibat gaya hambat atmosfer,” ujar Annisa.
Ia menambahkan, hasil pengamatan visual masyarakat yang diperkuat dokumentasi menunjukkan karakteristik khas objek buatan manusia yang masuk kembali ke atmosfer, bukan benda langit alami seperti meteor.
“Ciri-cirinya antara lain durasi kemunculan yang relatif lebih lama, kecepatan yang tampak lebih lambat, adanya fragmentasi cahaya, serta lintasan yang cenderung horizontal. Ini konsisten dengan fenomena re-entry sampah antariksa,” jelasnya.
Berdasarkan data dari Center for Orbital and Reentry Debris Studies (CORDS), terdapat beberapa kandidat objek yang diprediksi jatuh pada tanggal tersebut. Namun, hasil analisis menunjukkan bahwa objek yang terlihat di langit Lampung paling sesuai dengan karakteristik CZ-3B R/B.
“Identifikasi kami didukung oleh data kamera all-sky OAIL yang menunjukkan inklinasi lintasan sekitar 30 derajat, sejalan dengan inklinasi orbit CZ-3B yang berada di kisaran 28 derajat,” kata Annisa.
Ia juga menegaskan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari konsekuensi meningkatnya aktivitas peluncuran satelit global yang menghasilkan sampah antariksa.
Saat memasuki atmosfer Bumi, objek akan mengalami gesekan hebat yang menyebabkan sebagian besar material terbakar habis. Risiko jatuhnya fragmen ke wilayah pemukiman pun sangat kecil.
“Sebagian besar benda akan habis terbakar di atmosfer. Kalaupun ada sisa, ukurannya kecil dan kemungkinan jatuh di wilayah padat penduduk sangat rendah,” ujarnya.
Lebih lanjut, OAIL sebagai bagian dari Indonesian Sky Patrol Network (ISPN) terus mengembangkan teknologi pemantauan, salah satunya melalui pengembangan Smart All-sky Camera yang mampu mendeteksi benda jatuh antariksa secara real time.
“Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak panik jika melihat fenomena serupa, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Jika menemukan atau melihat benda jatuh dari langit, segera laporkan kepada pihak berwenang,” pungkas Annisa.
Menampilkan halaman 1 dari 1

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Rimadani Eka Mareta
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya