Komaruddin Hidayat Ingatkan Pers Tetap Cerdas dan Beretika
Muklis
Lampung Timur
Ia menjelaskan, peranan pers juga menyangkut fungsi kontrol sosial yang harus dilakukan secara profesional dan bertanggung jawab.
“Dalam undang-undang, pers itu sering diibaratkan seperti petugas ronda. Kalau ada kebakaran, tugas Anda berteriak keras-keras supaya pemadam kebakaran datang. Artinya, kritik yang dilakukan pers harus tulus, konstruktif, dan objektif,” jelas Komaruddin.
Komaruddin juga mengingatkan bahaya berita bohong atau sensasi murahan.
“Jangan sampai pers itu mengembuskan hoaks. Orang berbondong-bondong datang karena dikira ada kebakaran, padahal tidak ada apa-apa. Itu mengkhianati kepercayaan publik,” ucapnya.
Menurutnya, pers juga berfungsi sebagai jembatan antara pemerintah dan masyarakat.
“Pers itu wakil pemerintah untuk menyampaikan prestasi kepada publik, tetapi sekaligus menyampaikan keluhan dan kritik masyarakat kepada pemerintah dengan cara yang profesional, edukatif, dan etis,” tambahnya.
Komaruddin menyoroti terpukulnya banyak media arus utama akibat perpindahan belanja iklan ke media sosial dan platform digital.
“Sekarang ini mengapa banyak media mainstream melakukan PHK? Karena pemasukan menurun. Dulu pemasukan utama dari iklan, sekarang iklan lari ke media sosial dan platform digital,” paparnya.
Ia menyebut, banyak kreator konten yang mengejar sensasi agar menarik perhatian pengiklan.
“Konten kreator itu sering memilih tema yang sensasional dan emosional. Yang penting menghibur dan menarik sebanyak mungkin penonton. Semakin banyak penonton, semakin banyak iklan, dan semakin besar uangnya,” kata Komaruddin.
PHE
Dewan Pers
PT Pertamina
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
