Masuk Lampung, Green SM Buka 3.000 Lowongan Driver, Warga Desil 1–4 Jadi Prioritas
Rimadani Eka Mareta
Bandarlampung
Lampung menjadi daerah pertama di Pulau Sumatera yang disasar untuk ekspansi.
Selain membuka lapangan kerja, kehadiran Green SM juga diharapkan mendorong penggunaan energi terbarukan serta menekan tingkat polusi udara di daerah.
“Ini bagian dari program go green. Kita ingin mengurangi polusi sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan di tengah kondisi ekonomi saat ini,” jelasnya.
Dari sisi operasional, para pengemudi nantinya berstatus sebagai karyawan perusahaan, serupa dengan sistem yang diterapkan perusahaan taksi konvensional.
Pemprov juga telah menyiapkan ekosistem pendukung, termasuk pembangunan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) yang tersebar di wilayah aglomerasi Lampung Raya, meliputi Bandar Lampung, Metro, Pesawaran, Pringsewu, hingga Lampung Selatan.
“Diperkirakan akan ada lebih dari 100 titik charging station. Ini juga bisa dimanfaatkan masyarakat umum,” tambah Bambang.
Ia menilai penggunaan kendaraan listrik akan memberi keuntungan lebih bagi pengemudi. Biaya operasional dinilai lebih efisien dibanding kendaraan berbahan bakar minyak.
“Kalau mobil BBM sehari bisa habis Rp150 ribu sampai Rp200 ribu. Dengan listrik, biaya charging sekitar Rp70 ribu. Artinya penghasilan driver bisa lebih meningkat,” katanya.
Green SM juga akan menghadirkan sistem layanan fleksibel, mulai dari pemesanan melalui aplikasi, hingga layanan konvensional seperti pemanggilan langsung di jalan.
Dengan skema ini, diharapkan seluruh lapisan masyarakat dapat mengakses layanan transportasi modern tersebut, sekaligus ikut merasakan dampak ekonomi dari investasi yang masuk ke Lampung. (*)
Green sm
Lampung
taksi listrik
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
