Lampung Pacu Swasembada Pangan: Produksi Padi Naik 408 Ribu Ton, Diversifikasi Tanaman Petani Digenjot
Rimadani Eka Mareta
Bandarlampung
Tak hanya produksi pangan yang meningkat, beberapa komoditas perkebunan juga mengalami kenaikan harga, seperti kopi dan lada, yang bergerak mengikuti mekanisme pasar. Hal ini berdampak positif terhadap struktur perekonomian Lampung.
Pada Triwulan III 2025, sektor pertanian tercatat menyumbang hampir 40 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Lampung yang berada pada angka 5,4 persen.
“Kalau kita bandingkan dengan Triwulan III 2024, sektor pertanian tumbuh 7,74 persen. Ini kinerja yang sangat baik dan menjadi salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir,” kata Elvira.
Ia menegaskan bahwa dukungan kebijakan harga padi dan jagung, serta terdongkraknya nilai komoditas perkebunan, membuat pertanian tetap menjadi sektor yang paling resilien di Lampung.
Elvira menambahkan, pertumbuhan ekonomi Lampung tidak terlepas dari kekuatan sektor pertanian yang mengakar di desa-desa. Ia menyebut, stabilnya harga, meningkatnya produksi, serta perbaikan kebijakan tata niaga menjadi fondasi kuat geliat ekonomi daerah.
“Perekonomian itu tumbuh dari desa dulu, dari petani. Selama sektor pertanian sehat, Lampung akan terus bergerak maju. Itu yang kita jaga bersama,” ujarnya.
Dengan tren positif ini, Lampung optimistis bisa mempertahankan perannya sebagai penyokong utama ketahanan pangan nasional dan memperkuat swasembada pangan hingga tahun-tahun berikutnya. (*)
Lampung
swasembada pangan
dinas kptph Lampung
jagung
padi gogo
singkong
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
