Lampung Pacu Swasembada Pangan: Produksi Padi Naik 408 Ribu Ton, Diversifikasi Tanaman Petani Digenjot
Rimadani Eka Mareta
Bandarlampung
RILISID, Bandarlampung — Provinsi Lampung terus menunjukkan taji sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi gabah kering giling (GKG) Lampung diproyeksikan melonjak signifikan hingga akhir 2025.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung, Elvira Umihanni, menegaskan bahwa Lampung berada pada jalur positif menuju penguatan swasembada pangan.
“Potensi peningkatan produksi gabah kering giling sampai akhir 2025 mencapai 408 ribu ton. Angka ini naik dari 279 juta ton pada 2024 menjadi 320 juta ton di 2025. Artinya, ada kenaikan hampir 15 persen, dan ini capaian yang sangat baik untuk ketahanan pangan nasional,” ungkap Elvira.
Ia menyebut capaian tersebut bukan hanya prestasi daerah, tetapi juga kontribusi nyata dalam menjaga kecukupan pangan nasional di tengah dinamika iklim dan fluktuasi harga komoditas.
Di tengah peningkatan sektor pangan, Lampung menghadapi tantangan pada komoditas ubi kayu. Harga di tingkat petani masih berada pada titik rendah. Meski industri telah menerapkan Peraturan Gubernur Nomor 36/ 2025 serta Keputusan Gubernur tentang Harga Acuan Pembelian, harga yang ditetapkan yakni Rp1.350/kg dengan rafaksi 15 persen belum sepenuhnya mengangkat pendapatan petani.
“Untuk menyeimbangkan supply dan demand, kami tidak hanya mengandalkan stabilisasi harga. Petani ubi kayu perlu didorong beralih atau menambah tanaman pangan lahan kering lain, seperti jagung dan padi gogo,” jelas Elvira.
Diversifikasi ini dipandang penting mengingat risiko over supply yang terus berulang pada komoditas ubi kayu.
Elvira menjelaskan bahwa harga jagung dan padi hingga kini tetap stabil karena pemerintah menjaga harga melalui mekanisme Harga Acuan Pembelian (HAP) yang dijalankan Badan Urusan Logistik (Bulog). Dengan adanya HAP, petani memiliki kepastian harga.
“Jagung dan padi masih sangat menjanjikan. Harganya terjaga, penyerapan jelas, sehingga petani kita punya kepastian untuk meraih keuntungan yang lebih baik. Karena itu, mereka kami dorong menanam jagung dan padi gogo di lahan kering,” ujarnya.
Berdasarkan data BPS, luas panen ubi kayu pada 2025 mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Sebaliknya, luas panen padi, baik padi sawah maupun padi gogo meningkat signifikan dan menjadi penyumbang utama kenaikan produksi 408 ribu ton.
Lampung
swasembada pangan
dinas kptph Lampung
jagung
padi gogo
singkong
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
