Celetukan Anak Senior
lampung@rilis.id
Saat itu, saya terdiam. Pun yang lainnya. Saya yakin, semuanya sedang mengenang sosok Bang Een. Hingga akhirnya, Mba Eva dan dua anaknya duduk di ruangan itu bersama kami.
Sebelum acara memotong tumpeng dimulai, saya menyampaikan sambutan. Namun, kehadiran keluarga Bang Een membuat saya tak konsentrasi.
Bahkan di pertengahan sambutan, saya sempat berhenti berbicara. Karena tak kuasa menahan air mata. Saya terkenang kembali masa-masa bersama Bang Een.
Berlembar-lembar tisu saya usapkan ke wajah. Untuk mengelap air mata. Intinya saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran Mba Eva dan dua putranya. Yang menghidupkan kembali kenangan terhadap Bang Een. Sosok senior yang di mata saya tanpa cela.
Usai mengakhiri sambutan, saya pun memberikan kesempatan kepada Ade Yunarso. Juga untuk menyampaikan sambutannya.
Apa yang saya rasakan, juga dirasakan Mas Ade- sapan akrab saya kepada Ade Yunarso-. Ia pun sempat berhenti beberapa kali saat menyampaikan sambutan. Matanya pun terlihat memerah. Menahan tangis lantaran mengenang sosok Bang Een.
Mas Ade pun sempat meminta kepada kami untuk mendoakan Bang Een. Agar Allah SWT menempatkannya di Jannah-nya.
Usai Mas Ade sambutan, saya kembali memberikan kesempatan kepada Segan Petrus Simanjuntak.
Segan pun sama. Tak mampu menahan tangis. Bahkan, ia berkali-kali harus mengambil berlembar-lembar tisu di meja. Untuk mengelap air mata dan ingusnya yang mengalir deras. Sambil menangis sesenggukan, ia menyampaikan kenangannya terhadap Bang Een
Saya tahu, Segan begitu karena merasa sangat dekat sekali dengan Bang Een. Wajar. Itu karena Bang Een adalah seniornya langsung di Fakultas Hukum, Universitas Lampung.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
