Celetukan Anak Senior
lampung@rilis.id
Kami selama ini memang sangat menghormati sekali sosok almarhum Bang Een. Yang sangat berjasa dalam perjalanan Rilisid Lampung. Hingga sampai saat ini.
Saya lantas berinisiatif. Langsung menghubungi Mba Eva -istri Bang Een-. Melalui telepon saya pun memintanya untuk membawa dua putranya: Bima dan Dana.
Alhasil, acara potong tumpeng pun diundur. Sebab, Mba Eva baru bisa datang pukul 13.00 WIB. Dia pun menyatakan akan datang sendiri. Dan menolak dijemput tim Rilisid Lampung.
”Bada zuhur ya kami ke sana,” kata Mba Eva.
Usai menunggu beberapa jam, akhirnya Mba Eva dan dua putranya tiba. Kami langsung membawanya ke lantai dua. Ke ruang meeting.
Ruang itu di pintunya tertempel wajah Bang Een. Dan tertulis ”Ruang Hendarmin Corner”.
Kami memberi nama ruangan tersebut sebagai bentuk dedikasi kepada Bang Een. Yang jasanya kepada Rilisid Lampung tak terhingga. Sosok senior, teman, sahabat, yang selalu men-support kami. Semasa ia masih hidup.
Kehadiran keluarga Bang Een di Rilisid Lampung siang itu seakan mengingatkan kami kembali. Akan kenangan bersama Bang Een. Serasa ia kembali hadir di sekitar kami. Sebab, saat datang ke kantor Rilisid Lampung, Bang Een sering membawa dua putranya.
Saat akan masuk ke ruang Hendarmin Corner, hati saya pun kembali tersentak. Penyebabnya Dana, putra bungsu Bang Een berceletuk. Di saat ia melihat wajah ayahnya (Bang Een) terpampang di pintu ruang meeting tersebut.
”Ini ruangan ayah ya,” celetuk bocah kelas 4 SD itu polos.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
