Kunker ke Lampung, Menag RI Nazaruddin Umar Tekankan Pesan Moral, Ekoteologi, dan Kurikulum Berbasis Cinta
Fi fita
Bandar lampung
Soal syukur, Menag menjelaskan bahwa syukur juga bertingkat, mulai dari tahmid, syukur, hingga asy-syakur, yaitu mensyukuri segala ketentuan Allah, termasuk ujian dan ketetapan yang tidak menyenangkan.
“Mensyukuri apapun dia datang dari Allah karena Allah itu Maha Baik tidak mungkin ada sesuatu yang bersumber darinya yang tidak baik hanya kita tidak memahami kebaikan,” ungkapnya.
Menag meminta ASN Kemenag menjaga hubungan kerja dengan sabar dan tetap rendah hati, dan kritik tidak perlu dibalas dengan kemarahan.
“Kalau dikritik padahal kita benar, ucapkan: ‘Ya Allah ampuni aku, mungkin aku memang salah.’ Kalau kritiknya salah, katakan: ‘Ya Allah ampuni mereka.’ Tidak boleh ada dendam," ucapnya.
Pada kesempatan itu, Menag juga mengajak ASN untuk memahami kembali program prioritas Kemenag, khususnya ekoteologi dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).
“Eko itu bumi, teologi itu pengetahuan tentang Tuhan. Ekoteologi berarti mengangkat peran ASN Kemenag bukan hanya memikirkan manusia, tapi juga alam sebagai ruang aktivitas hamba sebagai khalifah,” jelasnya.
Ekoteologi mengingatkan pentingnya menciptakan lingkungan hidup yang segar, karena lingkungan yang baik akan menyegarkan pikiran dan batin.
“Tidak mungkin kita menjadi khalifah yang sukses kalau hidup di atas tanah tandus, banjir, longsor, atau bencana lainnya,” kata Menag.
Ia menyebut kerusakan alam dan bencana seperti banjir, dan longsor sebagai akibat ulah tangan manusia.
Menurutnya, upaya mencintai dan menjaga alam tidak cukup dengan bahasa hukum, politik, atau birokrasi.
Uin ril
universitas Islam Negeri lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
