Cerita Staf Peneliti PSMO UBL, Jalani Puasa hingga 18 Jam di Rusia
Rimadani Eka Mareta
Bandarlampung
Dandi juga mencatat bahwa perbedaan waktu dengan Indonesia cukup signifikan, di mana waktu berbuka di Rusia bisa lebih awal sekitar dua jam dibandingkan Indonesia.
Tantangan lainnya adalah ketersediaan makanan khas Indonesia.
"Yang paling saya rindukan tentu saja makanan Indonesia, terutama olahan tempe. Di sini harganya sangat mahal. Untungnya, saya membawa ragi tempe dari Indonesia dan berhasil membuat tempe sendiri," ungkapnya dengan antusias.
Untuk sahur dan berbuka, Dandi lebih sering memasak sendiri karena pilihan makanan halal terbatas, meskipun ada restoran Uzbekistan yang menyediakan makanan halal. Akses ke masjid juga menjadi kendala.
"Masjid di Rusia jumlahnya sedikit dan jaraknya jauh, jadi saya lebih sering shalat lima waktu dan tarawih di rumah," katanya.
Meskipun demikian, Dandi tetap bersyukur bisa menjalani ibadah dengan baik dan mendapatkan pengalaman berharga selama Ramadhan di negeri orang.
Sebagai penerima beasiswa dari Pemerintah Rusia, Dandi juga mengajak rekan-rekan mahasiswa Indonesia untuk tidak ragu melanjutkan studi ke Rusia.
"Biaya hidup di Rusia sangat murah, masyarakatnya ramah, dan toleransi beragama cukup tinggi. Jadi, jangan takut untuk kuliah di Rusia," pungkasnya.
Ramadhan di Rusia, meskipun penuh dengan tantangan, tetap menjadi momen yang penuh makna.
Dukungan komunitas Muslim, semangat berbagi, serta keteguhan dalam menjalankan ibadah membuat bulan suci ini menjadi pengalaman yang berharga bagi para perantau seperti Dendi dan umat Muslim di sana. (*)
UBL
universitas Bandar Lampung
mahasiswa UBL
rusia
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
