Pilpres 2019 dan Prediksi-prediksi Mengerikan yang Diramalkan
Anonymous
Jakarta
RILISID, Jakarta — Mereka, para elite menyebutnya tahun politik. Dimulai sejak awal 2017 lalu, saat Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 lalu. "Wangi-wangi" 2019 sudah tercium.
Lalu, di Juni 2018 juga berlangsung pemilihan kepala daerah serentak. Sedikit berbarengan dengan proses pendaftaran pendaftaran calon anggota legislatif, dan calon Presiden-wakil Presiden.
Pada tahun ini juga, kampanye akbar segera berlangsung. Hiruk-pikuk hajatan akbar pesta demokrasi akan memasuki tahap serius pada 13 Oktober nanti.
Tapi, perbincangan ramai soal ganti Presiden atau tetap bersama Presiden petahana sudah terjadi sejak awal tahun lalu. Aksi "gontok-gontokkan" di media sosial start dari kemarin-kemarin, tak kenal waktu.
Para pendukung dari kubu Joko Widodo dan Prabowo Subianto saling ngotot menjagokan sang kontestan andalan mereka. Musuh abadi. Karena, sejak 2014 lalu, kedua kubu ini sudah saling bersitegang, termasuk pendukungnya.
Media sosial lah yang kerap kali mengawal sebuah isu, menggiringnya sebagai opini publik, menjadikan trending topic hingga akhirnya tumpah di ruang publik. Lihat saja gerakan #2019GantiPresiden.
Penjualan kaos #2019GantiPresiden. FOTO: Liputan6.com
Selisih pendapat yang berujung ribut-ribut tidak jelas, kini jadi ancaman tersendiri. Diawali sejak sweeping kaos "seragam" tersebut, penolakkan aktivisi Neno Warisman di Pekanbaru, dan terakhir ini adalah aksi massa di Surabaya yang menolak gerakan 2019 Ganti Presiden.
Polisi kadang menjadi "bantalan". Mulai dianggap tak netral, berpihak, sampai-sampai disebut tak bisa lagi mengayomi masyarakat, serta aspirasi mereka di ruang publik.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
