Lampung Barat Benteng Terakhir Jika Mega-Thrust Terjadi di Selat Sunda
Arya Besari
Lampung Barat
“Kita ingin semua layanan publik di Lambar menjadi zona aman bencana,” katanya.
Padang mengingatkan dua peristiwa besar yang pernah mengguncang Lambar yakni gempa Suoh tahun 1933 dan gempa Liwa tahun 1994 dengan magnitudo 6,8.
Kedua peristiwa itu menjadi pengingat penting akan perlunya kesiapsiagaan masyarakat.
“Gempa 1994 saja dengan magnitudo 6,8 sudah merusak ribuan rumah dan menimbulkan korban jiwa. Kalau mega-thrust dengan kekuatan 8-9 magnitudo, daya rusaknya bisa jauh lebih dahsyat,” ujarnya.
Dari catatan kegempaan, periode siklus gempa besar di Lampung Barat terjadi setiap 30-60 tahun.
Dengan jarak waktu 30 tahun sejak gempa Liwa 1994, wilayah ini kini memasuki fase periodisasi jangka pendek.
“Artinya, sekarang kita sudah masuk fase rawan. Kita berharap tidak terjadi, tapi kesiapsiagaan harus ditingkatkan,” tegasnya.
Selain kesiapan sosial, BPBD Lambar juga membangun infrastruktur pendukung mitigasi, termasuk titik evakuasi di Kubu Prahu dan jalur menuju Suoh.
“Kami berharap pemerintah provinsi dan pusat memberikan perhatian lebih. Lambar ini wilayah strategis yang bisa menjadi pusat penanganan darurat bila mega-thrust terjadi,” ucap Padang.
Ia menambahkan, program safety briefing di tingkat kecamatan dan pekon terus digencarkan sebagai bagian dari edukasi kesiapsiagaan dini.
Lambar
Mega thrust
gempa
selat sunda
benteng terakhir
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
