Fadli Zon Curiga Teroris Sengaja Bikin Bom di Kampus
Anonymous
Jakarta
RILISID, Jakarta — Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon, tak yakin kalau radikalisme telah masuk kampus di Indonesia. Ia menduga ada upaya infiltrasi pihak-pihak luar kampus untuk merusak iklim akademik.
"Saya yakin kampus tidak seperti itu, apalagi kampus memiliki pengamanan yang cukup baik namun kita harus tetap waspada," kata Fadli di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (4/6/2018).
Dia meyakini, kampus-kampus di Indonesia sudah modern dan para mahasiswanya cerdas, sehingga tidak mungkin terpengaruh paham radikal, apalagi sampai membuat bom.
Fadli menduga, ada orang dari luar kampus yang memanfaatkan kampus untuk mencari tempat yang tidak disangka-sangka sebagai lokasi penyimpanan bom.
"Mudah-mudahan ini hanya satu gejala yang terjadi di suatu tempat, bukan fenomena. Apalagi diberitakan ada di beberapa kampus, saya sangat yakin tidak ada hal tersebut," ujarnya.
Dia juga mengkritik, aparat kepolisian yang masuk wilayah kampus dalam keadaan menggunakan senjata. Menurut dia, ini akan merugikan dunia akademik dan pemerintah, karena pesan yang mulai beredar adalah paham radikal sudah masuk sampai tingkat kampus.
"Saya sangat yakin masyarakat Indonesia cinta damai dan toleran sehingga saya tidak percaya kalau masyarakat kita punya bakat menjadi teroris kecuali dimanfaatkan oleh orang lain untuk kepentingan apapun," katanya.
Sebelumnya, Tim Densus 88 Anti-Teror Mabes Polri menyita empat bom siap pakai dalam penggeledahan di gelanggang mahasiswa Universitas Riau di Jalan HR Soebrantas di Kecamatan Tampan, Pekanbaru, Riau, Sabtu, 2 Juni kemarin.
Densus menangkap tiga terduga teroris yang merupakan alumni Universitas Riau, ketiganya berinisial J alumnus 2005, D alumnus 2002 dan K alumnus 2004.
Kapolda Riau Irjen Pol Nandang mengatakan para pelaku mengaku bom tersebut rencananya akan diledakan di kantor DPRD Riau dan DPR RI. Namun belum diketahui kapan bom tersebut akan diledakan karena pihak Kepolisian masih mendalami motif para pelaku.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
