Untukmu Pembaca Rilisid Lampung, Terima Kasih
Gueade
Jam delapan pagi wartawan dan redaktur sudah harus di kantor untuk proyeksi. Mengevaluasi berita sekaligus mendiskusikan apa yang akan dicari hari itu.
Maka tak heran, berita-berita yang dihasilkan berkualitas dan cepat viral. Ditambah eksklusivitas yang juga menjadi andalan.
Berita soal tertangkapnya mantan bupati Lampung Selatan Zainudin Hasan misalnya, Rilisid Lampung-lah yang memberitakan pertama kali. Baru kemudian yang lain mengikuti. Tak percaya? Cek saja jejak digitalnya.
Ini bisa terjadi karena wartawan yang bertugas di pos kriminal, Muhammad Iqbal, terus membayangi pergerakan KPK hingga dinihari. Tepatnya sampai pukul 03.00 WIB! Iqbal ini tetap setia bersama kami hingga kini.
Soal integritas wartawan juga menjadi harga mati. Ambil contoh, manajemen sampai memberhentikan seorang jurnalis Rilisid Lampung di Lampung Tengah karena terbukti menjadi tim sukses salah satu kandidat.
Ada lagi seorang wartawan yang bertugas di Lampung Selatan. Ia dipecat karena korupsi belasan juta rupiah.
Itu termasuk salah satu masa-masa indah bagi Rilisid Lampung. Berita oke, integritas wartawan terjaga, uang pun ada karena secara finansial perusahaan sangat sehat.
Sampai akhirnya datanglah badai keuangan di Januari 2019. Penyebabnya: keenakan mengurusi redaksi, kurang serius cari uang.
Modal awal pelan-pelan tergerus sampai terpaksa pinjam ke PT Agro Kimia Natura (AKN) –PT Agrokimia Group.
Hendarmin (alm), senior Rilisid Lampung yang kala itu juga didaulat sebagai bos di Bussiness and Development pun tak luput dari sasaran utang. Begitu juga dengan Hengki Irawan, ombudsman Rilisid Lampung.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
