Indra Pradya: Inti Berbicara di Depan Umum, Menangkan Crowd!
lampung@rilis.id
BANDARLAMPUNG
Terbentuknya Kelas Minat Lampung berawal dari keresahan sosial di lingkungan sekitar tempat tinggal Habib dan founder lainnya, Robin Ali. Banyaknya pengangguran, anak muda terjerat kasus hukum narkoba, dan anak putus sekolah. Karena itu, kegiatan belajar gratis harus rutin berjalan demi membantu mengurangi dampak dari keadaan sosial di lingkungan sekitar.
”Semua kegiatan harus gratis dan kami berusaha untuk menyediakan fasilitas untuk semua kegiatan belajar para peminat. Kami yakin dari kegiatan sederhana ini bisa menciptakan lapangan pekerjaan dan pemuda-pemuda yang kreatif, lebih banyak lagi,” kata Habib.
Dia meyakini, para pemuda mempunyai potensi di dalam diri mereka. Yang mereka butuhkan adalah kesempatan dan ruang untuk menggali potensi dalam diri mereka. Kelas Minat melakukan kegiatan belajar secara rutin lima hari dalam sepekan. Setiap Jumat pada setiap peaknnya, Kelas Minat mengadakan materi besar dan materi tambahan.
”Kegiatan belajar tidak hanya kami lakukan di Rumah Minat. Tapi juga kami lakukan di luar ruangan, camping ground,” ucapnya.
Sementara ini, Kelas Minat fokus mengajar di tiga bidang. Yakni fotografi, videogrfi, dan desain grafis. Kelas Minat juga memberikan materi pendamping bahasa Inggris dasar untuk meningkatkan kualitas belajar para peminat. Kelas Minat akan terus berusaha menambah bidang keminatan yang lain.
”Karena melihat antusias dari pendaftar yang masih terus bertambah dengan keminatan yang sangat beragam,” tandasnya.
Kelas minat saat ini sudah memiliki lebih dari 70 peminat dari berbagai kalangan dan latar belakang. Mulai dari anak-anak putus sekolah, pegawai yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), dan mantan narapidana. ”Mahasiswa yang aktif dan rutin kami latih secara gratis,” ucapnya.
Karena jumlah peminat yang masih terus bertambah, pola belajar mereka lakukan secara bergantian tatap muka dan dalam jaringan.
”Kami hanya melakukan hal kecil untuk mendukung dan meyakinkan mereka bahwa masih ada kesempatan di dunia digital creative. Mimpi kami adalah sekolah keminatan gratis untuk mereka yang membutuhkan. Untuk mereka yang sebenarnya punya potensi tapi jauh dari jangkauan dan perhatian. Kelas minat harus hadir untuk membantu menciptakan lapangan pekerjaan baru, lingkungan yang sehat dan para pemuda yang kreatif,” pungkasnya.(*)
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
