Bedah Buku "Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah"

Rilis.id

Rilis.id

Jakarta

16 Mei 2019 09:01 WIB
Humaniora | Rilis ID
Bedah Buku "Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah". FOTO: ISTIMEWA
Rilis ID
Bedah Buku "Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah". FOTO: ISTIMEWA

RILISID, Jakarta — Unit Pelaksana Teknis (UPT) Proklamator Bung Karno sebagai "Dapur Nasionalisme Indonesia" tidak henti- hentinya menggerakkan semagat budaya gemar membaca serta Nasionalisme Bung Karno kepada generasi muda.

"Djangan sekali-kali meninggalkan sejarah" adalah judul pidato yang disampaikan Presiden Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1966.

Pada orasinya, Soekarno menyampaikan perjalanan Bangsa dan Negara Indonesia selama 21 tahun pascaproklamasi kemerdekaan.

Tahun 1966 disebut Soekarno sebagai tahun gawat. Setahun sesudah peristiwa berdarah "GESTOK" (Gerakan Satu Oktober) yang terjadi pada tanggal 1 Oktober dini hari-sebagian menyebutnya sebagai Gerakan G30E/PKI. Sebab dari peristiwa tersebut masih di perdepatan, termasuk Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) yang kontroversial. Soekarno menegaskan pentingnya mempelajari masa lampau.

Dalam pidatonya, Bung Karno menyampaikan: "Hasil-hasil positif yang sudah dicapai di masa yang lampau jangan dibuang begitu saja. Membuang hasil-hasil positif dari masa lampau tidak mungkin. Sebab kemajuan yang kita miliki sekarang ini adalah akumulasi daripada hasil-hasil perjuangan di masa yang lampau, yaitu hasil-hasil macam perjuangan dari generasi nenek moyang kita sampai kepada generasi yang sekarang ini."

Kepala Perpustakaan Nasionall RI Muhammad Syarif Bandi yang berkesempatan membuka kegiatan bedah Buku "Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah" mengatakan, sejarah tidak boleh ditinggalkan dan selalu relevan.

Bedah buku pada Rabu (15/5/2019) itu mengupas tuntas pemikiraj Soekarno perihal pergolakan politik, Sejarah revolusi bangsa dan kondisi ekonomi pada saat itu.

Bedah buku menghadirkan narasumber Roesdy Hoesein (Sejarawan), Suyatno (Akademis), Dan Roro Daras (Penulis Buku). Kalarensi Naibaho dari Universitas Indonesia dipercaya sebagai moderator bedah buku tersebut.

Bedah buku "Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah" merupakan bagian dari peringatan Ulang Tahun ke-39 Perpustakaan Nasionall RI, bedah buku mengundang sedikitnya 250 peserta dari berbagai kalangan, seperti mahasiswa, pelajar, insan media dan masyarakat.(*)

Menampilkan halaman 1 dari 1

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Adi Pranoto
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya