Mahasiswa Tewas Diduga Dianiaya, Wakil Rektor Unila: Mohon Bantu Saya Mengungkap Kebenaran
Tampan Fernando
Bandar Lampung
“Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran bagi kita semua, mulai dari rektorat, fakultas, hingga seluruh organisasi kemahasiswaan (Ormawa), agar kita dapat melakukan evaluasi diri terhadap setiap kegiatan yang kita jalankan,” tambahnya.
Sementara itu, kasus meninggalnya Pratama Wijaya Kusuma telah dilaporkan oleh pihak keluarga ke Polda Lampung.
Ibunda almarhum, Wirna Wani, mengungkapkan bahwa selama mengikuti Diksar, putranya mengaku mengalami kekerasan fisik, seperti ditendang dan diinjak di bagian perut serta dada oleh para senior, dengan alasan melatih fisik dan mental.
“Saya ditendang di dada, ditendang di perut, diinjak-injak. Tapi saya mau mengadu nggak boleh, nyawa saya diancam,” kata Wirna, menirukan pernyataan putranya semasa hidup.
Wirna mengaku tidak terima dengan tindakan kekerasan tersebut yang dibungkus dengan alasan pembinaan organisasi.
“Sebenarnya saya nggak terima dibilang latihan fisik, tapi anak saya ditendang perut, ditendang dada. Sampai saya nangis. Saya bilang, ‘Lawan, Nak, kalau mereka macam-macam,’” ujar Wirna.
“Ramai lho, Ma (pelakunya). Ada yang tua, sampai umur 40-an juga ikut,” demikian pengakuan almarhum kepada ibunya saat itu.
Di sisi lain, Ketua Mahepel FEB Unila, Ahmad Fadila, membantah tudingan adanya kekerasan atau penganiayaan dalam kegiatan Diksar tersebut. Ia menyatakan bahwa selama pelatihan berlangsung tidak ada kontak fisik antara panitia dan peserta. (*)
Pratama Wijaya Kusuma
kasus kekerasan
penganiayaan
ormawa
Unila
mahasiswa Unila
Warek Unila
Prof Sunyono
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
