Rupiah Terus Melemah, Begini Saran INDEF ke Jokowi
Zulhamdi Yahmin
Jakarta
RILISID, Jakarta — Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara, memberikan sejumlah saran kepada Pemerintahan Joko Widodo terkait terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Salah satunya, Jokowi diminta untuk memperkuat kinerja ekonomi di dalam negeri.
"Pulihkan kepercayaan investor, jaga stabilitas harga baik BBM, listrik, maupun harga pangan jelang Ramadan. Sehingga konsumsi rumah tangga yang berperan 56 persen terhadap PDB bisa pulih," kata Bhima kepada rilis.id di Jakarta, Selasa (8/5/2018).
Selain itu, lanjut Bhima, pengusaha terutama yang memiliki utang luar negeri diharapakan untuk melakukan hedging atau lindung nilai. Pasalnya, fluktuasi kurs dapat membuat resiko gagal bayar utang valas meningkat.
"Kemudian bagi perusahaan yang bersiap membagikan dividen perlu mempersiapkan pasokan dolar untuk memitigasi ke depannya kurs dolar semakin mahal," ujarnya Bhima.
Dia menilai, cadangan devisa (cadev) dipastikan akan terus tergerus untuk stabilitas nilai tukar. Sehingga, Bank Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan cadev sebagai satu-satunya instrumen untuk stabilitas nilai tukar.
"Jika kondisi mendesak, BI bisa menaikkan bunga acuan 25-50 bps. Kenaikan bunga acuan diharapkan bisa menaikkan return instrumen investasi di Indonesia sehingga dana asing tidak melanjutkan capital flight," paparnya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
