Inovasi dan Teknologi Pertanian di Lahan Rawa Sudah Maju

Elvi R

Elvi R

Barito Kuala

14 Oktober 2019 20:15 WIB
Bisnis | Rilis ID
Salah satu alat mesin untuk pertanian. FOTO: Humas Balitbangtan
Rilis ID
Salah satu alat mesin untuk pertanian. FOTO: Humas Balitbangtan

RILISID, Barito Kuala — Dukungan inovasi dan teknologi dalam program selamatkan rawa, sejahterakan petani (Serasi) sudah sangat maju. Oleh karena itu persoalan utama pengembangan pertanian di lahan rawa bukan soal teknologi, namun soal tenaga kerja dan kelembagaan yang masih perlu dicarikan solusinya. Hal itu disampaikan Kepala Badan Litbang Pertanian, Fadjry Djufry dalam acara Temu Lapang Teknologi Litbang untuk SERASI dilaksanakan di Denfarm Jejangkit yang berlokasi di Desa Jejangkit Muara, Kec. Jejangkit, Kab. Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Senin (14/10/2019). 

Tahun ini serasi dilaksanakan di tiga provinsi yaitu di Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. Dari target pembukaan lahan sekitar 500 ribu ha, tahun ini sudah 300 ribu ha yang sudah dibuka dengan pembukaan lahan terluas di Sumsel dan Kalsel.

Menurut Fadjry, semua teknologi yang dibutuhkan sudah disiapkan oleh Balitbangtan. Mulai dari penataan lahan, pengelolaan air, pengolah tanah, pupuk hayati, hingga drone untuk menebar benih Balitbangtan sudah punya semua.

"Bahkan kita sudah punya traktor rawa yang bekerja secara autonomous yang digunakan untuk mengolah lahan basah seperti lahan rawa," jelasnya saat memberi arahan.

Lebih lanjut Fadry mengatakan, Balitbangtan juga mengembangkan alat mesin (alsin) panen padi terintegrasi dengan olah tanah. Alat ini, merupakan alsin yang mampu melakukan dua tahap pekerjaan sekaligus, panen sekaligus olah tanah dengan rotari dalam satu proses operasional.

"Sehingga alsin ini mampu memercepat  dan mengurangi pekerjaan olah tanah, memutus siklus perkembangan OPT padi, dan mengkondisikan sanitasi lingkungan pascapanen yang baik," katanya.

Adapun prinsip desain tata kelola air di lahan rawa dapat mengatasi sejumlah kendala. Di antaranya dapat mengatasi kekurangan air segar (air baku pertanian) pada saat musim kemarau, mampu membuang kelebihan air pada saat musim hujan, mampu memproteksi lahan dari genangan banjir pada saat musim hujan, dan secara operasional bisa melakukan sirkulasi untuk mengatasi masalah kualitas air.

Sementara, yang sudah dilakukan Kementan antara lain Survey Investigasi & Design (SID) Sederhana, rehabilitasi jaringan irigasi, memberikan bantuan Alsintan pra dan pasca Panen.

"Juga ada bantuan SAPRODI (Benih, Pupuk, Dolomit, Herbisida), integrasi budidaya hortikultura, ternak, ikan, Pengembangan Usaha melalui Kelompok Usaha bersama (KUB), dan melibatkan petani millenial," ungkapnya.

Sementara itu Kepala Balai Penelitian Tanaman Rawa, Hendri Sosiawan mengatakan, setiap daerah memiliki problematika dan tantangan masing-masing. Di Kalsel lahan rawa didominasi oleh lahan pasang surut tipe B dan C, dimana lahan hanya tergenang pada saat air pasang maksimum ntara lain saat bulan purnama. DiI Kalsel, dari rencana denplot farming (denfarm) seluas 100 hektare sudah terealisasi 67 hektare, terutama di lahan eks HPS. 
Total luas lahan rawa yang bisa dikelola menjadi lahan pertanian di desa jejangkit ada 760 hektare. Sebanyak 550 ha sudah dibuka lahannya saat kegiatan HPS tahun lalu, sisanya 210 hektare akan diselesaikan tahun ini. Balitbangtan sendiri akan menggarap lahan seluas 100 hektare, sekitar 100 hektare digarap oleh pemerintah provinsi, dan sisanya digarap oleh petani dan swasta.

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya