Duh! Gara-Gara Virus Corona, Dana Rp6.112 T 'Kabur' dari Pasar Modal Cina
Nailin In Saroh
Jakarta
RILISID, Jakarta — Sektor ekonomi Cina harus menelan pil pahit pada pembukaan kembali perdagangan saham usai libur Imlek tahun 2020. Pasalnya, dana sebesar USD 445 miliar atau setara Rp 6.112 triliun (asumsi Rp 13.728 per USD) terpaksa 'kabur' dari pasar modal Cina, akibat merebaknya wabah Virus Corona belakangan ini.
Dikutip dari CNN, Senin (3/2/2020), indeks Shanghai turun 7,7 persen. Penurunan ini menjadi yang terburuk sejak Agustus 2015. Saat itu, indeks Shanghai bergejolak akibat kekhawatiran perlambatan ekonomi Cina.
Sementara, indeks Shenzhen turut turun 8,4 persen. Terparah sejak 2007. Penurunan ini akibat larinya dana investor asing sebesar USD 445 miliar karena kekhawatiran dampak virus corona.
Bank sentral Cina mengatakan akan menyuntikkan dana miliaran Dolar ke pasar untuk menjaga likuiditas perbankan. Melindungi ekonomi dan pasar keuangan dari dampak virus corona menjadi prioritas pemerintah Cina saat ini.
Chief Market Strategist Asia dari JPMorgan, Tai Hui, mengatakan tekanan pada pasar modal masih bakal terjadi. Sebab, angka korban virus corona masih bisa bertambah. Apalagi WHO telah menyatakan wabah virus itu sebagai darurat global.
Belum usai persoalan tentang virus corona yang mewabah, pemerintah Cina kembali mengumumkan munculnya virus flu burung atau H5N1 yang melanda sebuah peternakan di provinsi Hunan. Provinsi ini sendiri berlokasi di selatan provinsi Hubei tempat di mana virus corona ditemukan pertama kalinya.
Dilansir dari laman Sputnik News, sejauh ini tidak ada virus H5N1 yang menginfeksi manusia. Namun, hal ini menyebabkan sekitar 7850 unggas terinfeksi dan sebanyak 4.500 ekor mati.
Hingga kini pemerintah Cina sedang berupaya mengatasi kasus ini mengingat bukan tidak mungkin virus H5N1 ini juga bisa menular ke manusia.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
