Budena, Budidaya Kedelai di Lorong Kelapa Sawit

Elvi R

Elvi R

Jakarta

14 Oktober 2019 14:52 WIB
Bisnis | Rilis ID
Tanaman kedelai diantara pohon sawit. FOTO: Humas Balitbangtan
Rilis ID
Tanaman kedelai diantara pohon sawit. FOTO: Humas Balitbangtan

RILISID, Jakarta — Untuk memperluas arel tanam kedelai dan peningkatan produksi, Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) mengembangkan budidaya kedelai naungan (Budena) tanaman kelapa sawit. Budena tanaman kelapa sawit merupakan teknologi budi daya kedelai yang ditanam di lorong-lorong tanaman kelapa sawit yang masih muda, berumur kurang dari empat tahun. 

Penanaman kedelai di lorong tanaman kelapa sawit merupakan upaya memperluas areal tanam kedelai disertai peningkatan produksi, disamping juga sebagai sumber benih kedelai guna mendukung program peningkatan produksi kedelai nasional. Pola usaha tani kedelai di areal kelapa sawit pada MK (musim kemarau) I dilakukan setelah padi gogo atau jagung.

Peneliti Balitkabi, Gatut Wahyu AS mengungkapkan, pada 2018 telah dilakukan pengembangan Budena di antara kelapa sawit di Desa Tanjung Jati, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Tata letak tanaman kelapa sawit tersusun dengan jarak tanam antar kelapa sawit adalah 9 m x 8 m, sedangkan lorong yang ditanami kedelai pada ukuran 9 m. 

Untuk TBM1 (tanaman kelapa sawit berumur sekitar 1 tahun), lanjutnya, potensi lahan yang bisa ditanami kedelai dengan lebar lorong 7 m (naungan sekitar 5 persen). Sementara pada TBM2 (tanaman kelapa sawit berumur sekitar 2 tahun) potensi lahan antara 4,5 m - 5,0 m karena terkendala vegetasi tanaman kelapa sawit yang menutupi lorong (naungan 20 persen hingga 30 persen). 

"Untuk itu, areal lahan TBM1 pada area satu hektar yang bisa ditanami kedelai seluas 0,80 hektare (ha), sedangkan pada TBM2 maksimal 0,6 hektare," terangnya. Teknologi budidaya kedelai ini dikembangkan Gatut bersama peneliti Balitkabi lainnya yaitu Novita Nugrahaeni, Herdina Pratiwi, Siti Mutmaidah, Kartika Noerwijati, dan Kurnia Paramita Sari.

Lebih lanjut Gatut menerangkan bahwa teknologi Budena kelapa sawit meliputi : pemupukan NPK 175 kilogram + SP36 75 kilogram + dolomit 750 kilogram per hektare yang diberikan bersamaan tanam dengan cara larikan, tanam dengan cara tugal, satu lubang tanam 2-3 biji, dengan jarak tanam ganda 50 cm x (30 cm x 20 cm) dan tunggal (40 cm x 20 cm). Varietas kedelai yang digunakan antara lain Dena 1, Dega 1, Anjasmoro dan Argomulyo.

Teknologi Budena yang diterapkan di lorong lahan tanaman kelapa sawit pada TBM1 memiliki tingkat potensi hasil kedelai lebih tinggi (tidak termasuk lahan yang ditanami kelapa sawit) dibandingkan dengan lahan di TBM2. Perbedaan tersebut karena di lahan TBM2 memiliki naungan yang lebih besar, kendala lainnya adalah akar kelapa sawit sudah menjalar hingga ke tengah lorong yang diduga mempengaruhi tanaman kedelai.

Menurut Gatut, teknologi Budena yang diterapkan di lorong lahan tanaman kelapa sawit pada lahan TBM1 menunjukkan produktivitas hasil biji mencapai lebih dari 2,36 ton per hektare (penggunaan lahan 80 persen). Sedangkan di TBM2 menghasilkan kedelai 1,07 ton per hektare (penggunaan lahan 60 persen).

"Capaian ini menunjukkan bahwa potensi lahan di lorong kelapa sawit baik TBM1 maupun TBM2 untuk budi daya kedelai masih representatif," lanjutnya.

Di lahan TBM1 potensi tanaman kedelai tertinggi adalah varietas Argomulyo, mencapai 3,61 ton per hektare dengan tingkat produktivitas 2,88 ton per hektare (termasuk lahan yang ditanami kelapa sawit) dengan kadar air biji 14 persen, diikuti oleh varietas Dega 1, Anjasmoro, dan Dena 1. 

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya