Budena, Budidaya Kedelai di Lorong Kelapa Sawit
Elvi R
Jakarta
Varietas Argomulyo pada jarak tanam tunggal menunjukkan produktivitas hasil lebih tinggi (selisih 1,42 ton), Dena 1 pada jarak ganda relatif lebih tinggi (selisih 0,15 ton), dan Anjasmoro menunjukkan potensi hasil biji lebih tinggi dengan cara jarak tanam tunggal (selisih 0,20 ton).
Di lahan TBM1 keragaan komponen hasil biji (tinggi tanaman, cabang, polong isi, dan berat 100 biji) dengan dua model jarak tanam memiliki ukuran yang relatif sama.
Varietas Dena 1 di lahan TBM2 menunjukkan potensi hasil biji hingga mencapai 2,12 ton per hektare dengan tingkat produktivitas 1,27 ton per hektare, dan lebih tinggi dibandingkan varietas lainnya pada lahan yang sama.
Selanjutnya tingkat produktivitas Dena 1 diikuti oleh varietas Dega 1, Argomulyo, dan Anjsmoro. Varietas Dega 1 menunjukkan potensi/produktivitas hasil biji relatif sama pada dua model jarak tanam, demikian juga komponen hasilnya.
Varietas Argomulyo memiliki potensi hasil biji relatif sama di kedua model jarak tanam (1,83 ton per hektare), meskipun pada jarak tanam ganda memiliki jumlah polong relatif lebih banyak. Disinyalir perbedaan tersebut terkait ukuran biji pada jarak tanam biasa yang lebih besar. Varietas Anjasmoro menghasilkan potensi hasil biji sekitar 1,70 ton per hektare pada dua model jarak tanam, dan lebih rendah daripada varietas lainnya di lahan yang sama.
"Berdasarkan produktivitasnya, terlihat bahwa kedua model jarak tanam tidak berpengaruh besar, namun demikian model jarak tanam ganda lebih mudah dalam pemeliharaan tanaman, utamanya pengendalian hama dan penyakit pada tanaman kedelai," tutupnya. (Gatut_Wahyu A.S., Novita Nugrahaeni, Herdina Pratiwi, Siti Mutmaidah, Kartika Noerwijati, dan Kurnia Paramita sari – Balitkabi Balitbangtan)
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
