Balitbangtan Demonstrasikan Pertanian Rawa Ramah Lingkungan
Elvi R
Jakarta
Balitbangtan mengembangkan pestisida nabati berbahan sumberdaya lokal (daun mimba, kunyit, urin sapi dan asap cair) yang diperkaya oleh mikroba atau lazim disebut sebagai biopestisida Balingtan. Biopestisida tersebut mempunyai keunggulan antara lain menambah kekebalan tanaman terhadap serangan OPT, meningkatkan kesuburan lahan, mengurangi pencemaran residu pestisida dan meningkatkan produksi tanaman. Pemberian pestisida nabati secara terus menerus tidak meninggalkan residu dalam tanah dan produk tanaman serta relatif mudah terdegradasi.
Seperti dijelaskan Kepala Balingtan, Ir Mas Teddy Sutriadi, M.Si biopestisida telah banyak digunakan oleh kelompok tani di Kabupaten Pati dan sekitarnya. Kelompok tani dampingan Balingtan menghasilkan 10,15 ton per hektare gabah dengan aplikasi biopestisida, petani yang lainnya (pestisida kimia-red) hanya 7,76 ton per hektare. Dilaporlan jiha Biopestisida Balingtan juga digunakan untuk kegiatan Blok Program di Lampung dan Grobogan. Hasilnya sangat memuaskan, di Margototo (Lampung) hasil jagung mencapai 21 ton per hektare tongkol kering dan di Grobogan, hasil padi mencapai 6,92 ton per hektare.
Pun dalam Program SERASI, Balitbangtan menggunakan biopestisida Balingtan sebagai salah satu pengendalian OPT pada salah satu kegiatan superimposednya. Pada luasan lebih dari 2.000 meter persegi biopestisida diaplikasikan dan hasilnya mampu mengurangi serangan OPT. Dilaporkan Sri Wahyuni, peneliti Balitbanhtam bahwa penggunaan biopestisida mampu menurunkan 50 peraen serangan OPT jika dibandingkan dengan penggunaan pestisida kimiawi. Pada biopestisida, kandungan azadirachtin pada ekstrak mimba yang berfungsi sebagai penolak makan, repelen, toksikan dan pengganggu pertumbuhan OPT.
Selain itu, penggunaan daun galam sebagai bahan baku biopestisida di lahan rawa juga memperlihatkan hasil yang cukup memuaskan. Serangan OPT turun 20 persen dengan aplikasi biopestisida galam. Ekstrak galam efektif membunuh ulat Spodptera exigua karena punya sifat racun perut, ulat akan mati dalam 3 hari setelah terkena ekstrak galam.
Produk pangan yang berkualitas menjadi salah satu daya tarik konsumen terlebih dengan terbukanya persaingan global. Teknologi pertanian inovatif ramah lingkungan sangat dibutuhkan dan Balitbangtan telah menyediakannya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
