Pengamat: Sejak Awal Kubu Jokowi dan Prabowo Mainkan Isu SARA

Zulhamdi Yahmin

Zulhamdi Yahmin

Jakarta

18 September 2018 14:59 WIB
Elektoral | Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman
Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

RILISID, Jakarta — Peneliti dari Forum Studi Media dan Komunikasi Politik Indonesia (Formasi), Muhammad Taufik Rahman, mengatakan, isu agama sulit untuk dihindari dalam kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. 

Pasalnya, kata Taufik, sejak awal calon presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto sudah memainkan isu tersebut untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitasnya. 

"Baik Jokowi maupun Prabowo sejak awal sudah menggunakan isu SARA. Pilihan Jokowi terhadap Ma'ruf Amin misalnya, itu dilandasi isu SARA," kata Taufik kepada rilis.id, Selasa (18/9/2018). 

Dia melanjutkan, Ma'ruf dipilih oleh Jokowi lantaran bisa menjadi representasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Nahdlatul Ulama (NU). 

Dengan begitu, menurut Taufik, Jokowi memiliki kepentingan menggaet massa Islam saat memilih Ma'ruf sebagai cawapresnya. 

Taufik menilai, isu agama masih potensial untuk meningkatkan elektabilitas di setiap pesta demokrasi di Indonesia. Pasalnya, umat Islam adalah massa mayoritas yang selalu menjadi rebutan setiap pasangan capres-cawapres. 

"Jadi ya isu SARA ini masih laku saja dipakai karena memang pasar elektoral di Indonesia masih didominasi oleh kelompok agama," ujarnya. 

Dia menjelaskan, kelompok-kelompok Islam yang ada di Indonesia ini memiliki tipikal yang patuh terhadap pimpinannya. Sehingga, para politisi akan dengan mudah menggaet massa tersebut ketika berhasil merangkul pemimpinnya. 

"Tipikal umum kelompok beragama adalah kolektivitas yang tinggi dan patuh pada patron. Asal bisa memegang kepala, ekornya biasanya akan ikut. Kampanye di kelompok ini jauh lebih efisien dan murah," paparnya.

Menampilkan halaman 1 dari 1

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Sukma Alam
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya