Dari Pengacara Rakyat hingga Diundang Mata Najwa
Anonymous
Bandarlampung
Ketua Badan Advokasi Hukum NasDem Lampung ini menceritakan banyak terdapat tantangan dan rintangan serta risiko yang semuanya harus dilewati. Hal serupa juga ia alami ketika aktif di LBH Bandarlampung.
“Saya tidak khawatir dengan adanya tekanan dari berbagai pihak yang tidak senang dengan sikap kritis dan perjuangan LBH Bandarlampung dalam melakukan kerja-kerja advokasi untuk masyarakat, karena bagi saya membela kaum marjinal adalah kewajiban, mereka harus mendapatkan perlakuan sama di hadapan hukum,” katanya.
Sejak menjadi aktivis di LBH Bandarlampung dan Dewan Rakyat Lampung (DRL) pada 2008 silam, Wahrul sering mendatangi berbagai daerah pelosok di Lampung.
Di antaranya ke daerah Denteteladas, Tulangbawang terkait konflik antara petani petambak dengan perusahaan, di kawasan Register Hutan 20 dan 22 di Kabupaten Pesawaran, serta konflik antara masyarakat petani dengan perusahaan perkebunan di Lampung Barat.
“Saya dan teman-teman Walhi Lampung pernah juga melakukan investigasi illegal logging di wilayah Belimbing Bengkunat, TNBBS (Taman Nasional Bukit Barisan Selatan) Lampung Barat selama berhari-hari, serta pernah juga Menggugat PLN waktu itu, dan masalah sita aset Satono,” pungkas mantan Koordinator Pemantau Peradilan Lampung ini. (*)
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
