Benarkah Geothermal Picu Gempa Bumi? Begini Penjelasan Resmi PGE Area Ulubelu
Tampan Fernando
Bandar Lampung
RILISID, Bandar Lampung — Getaran gempa bumi yang sempat dirasakan masyarakat di wilayah Kabupaten Tanggamus, pada 2 Mei 2026 pukul 04.36 WIB menjadi perhatian warga dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut berkekuatan magnitudo 2,4 dengan pusat gempa berada di wilayah Tanggamus.
Berdasarkan akumulasi data BMKG selama periode Januari hingga April 2026, tercatat sebanyak 62 kejadian gempa di wilayah Sumatera bagian selatan dan Selat Sunda dengan magnitudo berkisar M1,3 hingga M4,7.
Tren kejadian menunjukkan peningkatan yang relatif stabil, dengan puncak aktivitas terjadi pada Maret 2026 yang mencapai sekitar enam kejadian per minggu.
Data tersebut menunjukkan bahwa kawasan ini memang berada dalam dinamika tektonik aktif yang terus berlangsung secara alami.
Secara geografis, Indonesia berada pada jalur Ring of Fire atau cincin api Pasifik, yakni kawasan dengan aktivitas tektonik tertinggi di dunia.
Khusus wilayah Sumatera bagian selatan, aktivitas kegempaan dipengaruhi oleh tiga sistem tektonik utama, yaitu Zona Subduksi Sunda, Sesar Sumatera Segmen Semangko, serta basin Selat Sunda.
Interaksi ketiga sistem inilah yang menjadi pengendali utama aktivitas seismik di kawasan Lampung dan sekitarnya.
Distribusi magnitudo gempa yang didominasi kejadian kecil hingga menengah merepresentasikan proses pelepasan tegangan batuan (stress release) akibat pergerakan alami kerak bumi.
Dengan karakteristik tersebut, kejadian gempa yang dirasakan masyarakat merupakan manifestasi aktivitas tektonik regional dan tidak dapat serta-merta dikaitkan dengan kegiatan panas bumi yang beroperasi di wilayah Ulubelu.
PGE
panas bumi
geothermal
PGE Ulubelu
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
