Innalillahi Bayi Usia Dua Bulan Meninggal Usai Operasi Di RSUDAM, Dugaan Jual Beli Alat Medis Menyeruak
Rimadani Eka Mareta
Bandarlampung
Pihak RS Urip Sumoharjo pun sempat mempertanyakan kenapa keluarga pasien yang harus mencari sendiri alat bantu tersebut, dengan kata lain mengapa bukan pihak RSUDAM yang berkomunikasi ke RS. Urip Sumoharjo.
Alat bantu di PICU RS. Urip Sumoharjo itu tersedia dan memberi secercah harapan buat orang tua pasien, namun nahas waktu yang habis terbuang mencari ketersediaan alat memaksa bayi malang itu berpulang sebelum mendapat alat bantu PICU tersebut.
Kesulitan tak putus sampai disitu saja, bahkan Ketika bayi itu sudah wafat. Keluarga pasien juga masih disibukan mencari-cari ketersediaan ambulance di RSUDAM. Keluarga pasien pun mendatangi tempat ambulance di RSUDAM yang ternyata tidak ada satu pun penjaga yang standby.
“Katanya BPJS kelas II nggak mengcover ambulance, maka dikenakan biaya Rp1,5 juta kami cari ambulance ternyata nggak ada petugas standby, sempat nunggu dan akhirnya memutuskan pulang ke Kalianda tidak pakai ambulance,” kata Elda.
Setelah memutuskan tak pakai ambulance barulah datang petugas jaga dengan cengar-cengir yang mengaku habis keliling.
Entah apa yang dicek sehingga tak ada satupun petugas jaga di unit ambulance yang terkunci di pintu gerbang.
Kini bayi berusia 2 bulan itu sudah dikebumikan pada tanggal 20 Agustus 2025 di Dusun Sinar Baru Kelurahan Way Urang, Kecamatan Kalianda. Ibu dari bayi itu, Nida Usofie berharap penjelasan konkret atas kejanggalan serta buruknya pelayanan yang diterima mereka ketika menjalani perawatan di RS plat merah Provinsi Lampung yang dinahkodai oleh direktur baru tersebut.
“Kami kecewa betul dengan pelayanan serta laku dokter yang bertanggungjawab. Kami ingin ada itikad baik dari pihak-pihak terkait atas dampak dari persoalan ini. Kami nggak ingin ada lagi pasien yang mengalami pelayanan seperti yang kami rasakan,” pungkas ibu pasien.
Untuk mengulik apakah laku jual beli alat medis antara dokter dan pasien itu lumrah dilakukan atau justru tak dibenarkan, media ini menghubungi Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Bandar Lampung dr. Khadafi. Pentolan IDI Bandar Lampung itu belum mengetahui apakah yang dr. BR itu anggota IDI Bandar Lampung atau bukan.
“ Ini kasus yang mana ya, dan siapa nama dokternya nanti saya cari tahu dulu. Saya cek keanggotaan dulu,” kata dr. Khadafi tanpa menjawab dengan gamblang.
Rsudam
rumah sakit umum daerah abdul Moeloek
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
