Pemprov Lampung Matangkan Rencana Investasi Bioetanol Berbasis Teknologi Multifeedstock
Rimadani Eka Mareta
Bandarlampung
Ia menjelaskan bahwa Lampung memiliki keunggulan strategis untuk pengembangan bioetanol, baik dari sisi geografis maupun ketersediaan bahan baku. Sekitar 29 persen struktur ekonomi Lampung ditopang sektor pertanian, dengan produksi jagung mencapai sekitar 2,7 juta ton per tahun serta singkong yang berkontribusi hingga 70 persen produksi nasional.
“Lampung adalah gerbang Pulau Sumatera dan berdekatan langsung dengan pasar utama di Pulau Jawa. Potensi komoditas pertanian kita sangat besar untuk mendukung kebutuhan feedstock bioetanol,” ujar Mulyadi.
Mulyadi menekankan bahwa penerapan teknologi multifeedstock menjadi kunci utama agar produksi bioetanol tidak bergantung pada satu jenis komoditas. Teknologi ini memungkinkan pemanfaatan berbagai bahan baku seperti ubi kayu, tebu, nira, hingga biomassa lainnya secara fleksibel dan berkelanjutan.
“Dengan teknologi multifeedstock, kita bisa menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan ketahanan pangan. Produksi bioetanol tetap berjalan tanpa menekan satu komoditas tertentu,” jelasnya.
Dari sisi industri, Pertamina New & Renewable Energy memaparkan rencana pengembangan bioetanol secara bertahap di Provinsi Lampung. Tahap awal akan difokuskan pada pembangunan demo plan bioetanol generasi kedua, yang direncanakan berlokasi di kawasan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran. Pada tahap ini, bahan baku yang digunakan antara lain limbah biomassa kelapa sawit serta uji tanam sorgum sebagai bagian dari pengembangan teknologi lanjutan sebelum masuk ke skala komersial.
Bioetanol
pemprov lampung
kemandirian energi nasional
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
