Ngobrol Bareng Komunitas, Ken Setiawan: Ancaman Radikalisme Kini Ada di Genggaman!
Tampan Fernando
Bandar Lampung
Namun, setelah melalui proses panjang, saya menyadari kekeliruan itu dan kini saya kembali setia kepada NKRI," ungkap Ken, mengingatkan audiens akan bahaya pemahaman yang keliru terhadap negara dan ideologi yang berlaku di Indonesia.
Ken juga menceritakan pengalaman pribadinya tentang proses doktrinasi yang ia alami, yang mirip dengan teknik hipnosis.
Ia dijauhkan dari pemikiran kritis melalui pertanyaan-pertanyaan manipulatif seperti, "Bagus mana, Pancasila atau Al-Quran?", yang disertai dengan kutipan ayat-ayat tertentu yang mengarahkan pada penolakan terhadap negara.
Proses ini, menurut Ken, bertujuan untuk menggiring individu untuk menolak negara dan menciptakan pemahaman bahwa segala sesuatu yang berbeda dengan ajaran yang diyakini adalah salah.
Dalam acara ini, Ken juga melakukan simulasi perekrutan dengan salah satu peserta bernama Budi, yang dalam waktu singkat langsung menyatakan penolakannya terhadap negara.
"Negara kesatuan Republik Indonesia undang-undangnya melawan hukum Tuhan," ujar Budi dalam sesi percakapan tersebut, yang menjadi contoh betapa cepatnya seseorang bisa terpengaruh oleh paham radikal.
Ken menyampaikan bahwa radikalisasi adalah sebuah "virus" yang bisa menyerang siapa saja, tanpa memandang usia, latar belakang pendidikan, atau profesi.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kesadaran kolektif masyarakat untuk memahami ancaman ini, yang dapat datang dari berbagai sumber, termasuk media sosial dan internet.
Ken juga menjelaskan tentang pentingnya memahami sila pertama Pancasila, yaitu "Ketuhanan yang Maha Esa", yang tidak hanya berarti mencintai Tuhan, tetapi juga mencintai tanah air Indonesia.
"Jika kita cinta Tuhan, maka kita juga harus cinta tanah air kita, Indonesia," kata Ken.
Ngobrol Bareng Komunitas
BNPT
FKPT Lampung
radikalisme
terorisme
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
