Ngobrol Bareng Komunitas, Ken Setiawan: Ancaman Radikalisme Kini Ada di Genggaman!

Tampan Fernando

Tampan Fernando

Bandar Lampung

22 September 2025 17:44 WIB
Pemerintahan | Rilis ID
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggelar acara "Ngobrol Bareng Komunitas" di Pringsewu. Foto: ist
Rilis ID
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggelar acara "Ngobrol Bareng Komunitas" di Pringsewu. Foto: ist

RILISID, Bandar Lampung — Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggelar acara "Ngobrol Bareng Komunitas" sebagai bagian dari upaya pencegahan dini terhadap paham radikalisme dan terorisme di Kabupaten Pringsewu, Lampung, pada 21 September 2025.

Kegiatan ini diselenggarakan di Gedung Serba Guna (GSG) Padepokan PSHT, dengan melibatkan berbagai organisasi komunitas yang ada di daerah tersebut.

Tujuan dari acara ini adalah untuk menjalin hubungan harmonis antar komunitas serta memperkuat mereka sebagai agen perdamaian yang dapat mengkampanyekan bahaya radikalisme dan terorisme di tengah masyarakat.

Acara dibuka dengan sambutan dari Dr. Alizammil Yusuf, M.Si., anggota Komisi XIII DPR RI, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas organisasi dalam menghadapi tantangan radikalisasi di Indonesia.

Dilanjutkan dengan sambutan dari Kasubdit Kesiapsiagaan dan Pengendalian Krisis BNPT, Kolonel Inf. Indra Gunawan, yang menjelaskan tentang peran BNPT dalam melakukan mitigasi terhadap ancaman terorisme di Indonesia.

Namun, sorotan utama dalam acara ini adalah pemaparan dari Ken Setiawan, seorang aktivis yang juga mantan radikal yang kini aktif dalam menyebarkan pesan perdamaian.

Dalam sesi ceramahnya, Ken mengungkapkan keprihatinannya terhadap maraknya penangkapan teroris yang melibatkan anak-anak di bawah umur.

Salah satu kasus yang disorot adalah penangkapan seorang remaja di Lampung oleh Densus 88.

Ken menyatakan bahwa banyak dari mereka yang terpapar radikalisasi melalui media sosial, yang merupakan saluran utama penyebaran paham ekstremisme.

"Dulu saya adalah orang yang paling radikal. Saya menolak dan mengingkari Pancasila. Bahkan, saya menganggap Pancasila sebagai tahgût (berhala) yang harus ditolak.

Menampilkan halaman 1 dari 7
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Tampan Fernando
Tag :

Ngobrol Bareng Komunitas

BNPT

FKPT Lampung

radikalisme

terorisme

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya