Penjelasan Anies Baswedan soal Risiko Tinggi Terkontaminasi Virus Korona di KRL

AM Ikhbal

AM Ikhbal

JAKARTA

11 Maret 2020 21:45 WIB
Nasional | Rilis ID
Suasana di Stasiun Kereta Api di Tanah Abang. (Foto: Rilis.id)
Rilis ID
Suasana di Stasiun Kereta Api di Tanah Abang. (Foto: Rilis.id)

RILISID, JAKARTA — Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membenarkan foto viral yang menyebut risiko kontaminasi virus korona (Covid-19) di transportasi publik, KRL jalur Bogor-Depok-Jakarta Kota. Namun dia meluruskan foto itu bukan data kasus positif virus korona di daerah yang dimaksud, melainkan sebagai mitigasi pencegahan.

"Jadi yang disampaikan itu bukan bahwa saat ini ada kasus, bukan. Tapi saat ini kami punya potensi risiko-risiko, salah satunya transportasi, tapi juga yang aspek-aspek lain," kata Anies di Balai Kota DKI Jakarta seperti dilansir CNNIdonesia, Rabu (11/3/2020).

Anies menjawab hal tersebut merujuk foto yang memperlihatkan dia sedang berbicara di hadapan pimpinan dinas dan BUMD pada Rabu pagi. Pada foto itu Anies terlihat sedang berbicara, sementara di layar presentasi di belakang dirinya mengenai 'Waspada Risiko Covid-19 via Transportasi Publik'.

Pada layar presentasi itu terdapat tiga keterangan yang salah satunya tertulis risiko kontaminasi terbesar terjadi di wilayah KRL-2 atau Rute Bogor-Depok-Jakarta Kota.

Keterangan lain tertulis, 'Secara umum, rerata waktu tempuh dari lokasi tinggal pengidap Covid-19 dengan transportasi publik lebih kurang 55 menit'.

Kemudian menyebutkan, 'Zona KRL 4 Cikarang-Bekasi-Jakarta Timur sementara dilaporkan relatif bebas dari Covid-19'.

Hal-hal tersebut ini merupakan langkah mitigasi DKI mengatasi penyebaran virus korona di Ibu Kota.

"Intinya kenapa tadi dikumpulkan seluruh jajaran, baik kepala OPD maupun pimpinan BUMD untuk menyampaikan semua potensi risiko sehingga jajaran bisa mengambil langkah-langkah mitigasi," katanya.

Anies mengatakan data yang tertera dalam keterangan tersebut merupakan informasi internal DKI yang harusnya tidak untuk disebarluaskan. Data itu didapat dari pemetaan yang dilakukan Pemprov DKI dan bersumber dari para pasien.

"Kami kan memiliki data sebaran orang-orang dalam pemantauan, data pasien dalam pengawasan. Dari situ kemudian dibentuk petanya, ada. Dan tadi juga dipaparkan juga petanya. Tapi kan itu untuk kebutuhan internal supaya kami bisa melakukan langkah-langkah mitigasi," kata Anies.

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya