Pemerintah, Awalnya Meremehkan Akhirnya 'Gelagapan'
Nailin In Saroh
Jakarta
"Walaupun pemerintah telah menambah lokasi pengujian sampel di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan (BBTKL) dan Universitas Airlangga, dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Institute namun dua lab tersebut dirasa masih kurang. Harus penambahan alat dan sinergi dengan kampus dan perusahaan yang memiliki peralatan uji COVID-19," saran Doktor lulusan Inggris ini.
Persoalan kemanusian pun bertambah, yaitu seolah olah Negara sengaja mengorbankan awak medis. Jubir pemerintah mengatakan bahwa merupakan sebuah resiko yang harus ditanggung oleh tenaga medis ketika menangani pasien COVID-19.
"Pernyataan ini mungkin benar namun menjadi konyol dan seakan tidak peduli dengan jihad tenaga medis karena dilapangan alat perlindungan diri (APD) tidak tersedia secara memadai," jelas Sukamta.
Selain itu, perlengkapan bagi tenaga medis yang tidak memadai dari segi jenis maupun jumlahnya akan membahayakan tenaga medis itu sendiri. Bisa jadi, dikatakannya, mengubah status dari penolong menjadi korban, tentu kejadian ini tidak boleh terjadi.
"Diantara kacaunya kondisi, hal terpenting seharusnya pemerintah segera perbaiki ialah manajemen penanganan wabah corona sebelum kondisi diluar kendali terjadi. Apabila pemerintah kembali terlambat menyiapkan dan mengambil langkah-langkah strategis maka sulit untuk mengendalikan situasi yang sudah chaos," kata Sukamta.
Anggota DPR RI Dapil DI Yogyakarta ini menambahkan, ketika perhatian masyarakat tertuju pada penanganan kasus corona, pemerintah ternyata masih membuka pintu masuk Warga Negara Asing dari negara yang terkena wabah COVID-19 secara rombongan.
"Ini akan memperparah psikologis masyarakat dan menambah pekerjaan penanganan kasus-kasus yang ada jika WNA yang masuk ternyata terinvekasi COVID-19," tandasnya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
