Pemerintah, Awalnya Meremehkan Akhirnya 'Gelagapan'
Nailin In Saroh
Jakarta
RILISID, Jakarta — Jumlah pasien positif virus corona atau COVID-19 di Indonesia bertambah menjadi 172 orang dengan 7 orang meninggal per Selasa, (17/3/2020). Jumlah ini diprediksi akan terus bertambah.
Anggota Komisi I DPR RI Sukamta, menilai pemerintah yang pada awal mula kemunculan virus corona seperti mengganggap remeh kini malah gagap alias 'gelagapan' menghadapi wabah corona. Pasalnya, sampai hari ini pemerintah belum memiliki skema jelas dalam penanganan penyakit tersebut.
"Kami mendapatkan informasi dari masyarakat di berbagai daerah banyak yang mengeluh, bingung dan semakin khawatir akibat tidak mendapatkan pelayanan secara aman dan meyakinkan ketika merasa ada indikasi terpapar virus COVID-19," ujar Sukamta kepada wartawan, Rabu (18/3/2020).
Menurutnya, masyarakat bingung kala ingin mengecek kondisi karena memiliki gejala dan riwayat kontak dengan suspect bahkan positif corona di rumah sakit rujukan. Bahkan, Sukamta menyebut penanganan pasien amburadul, mulai dari ruang isolasi yang ternyata banyak ditemukan kurang layak.
"Seperti pasien yang memiliki indikasi COVID-19 disatukan dalam satu ruangan yang berisi 4-6 orang. Ruang isolasi sangat terbatas jumlah maupun fasilitasnya," ungkapnya.
Setelah dicek di lapangan, lanjut Sukamta, banyak rumah sakit diberbagai daerah belum memiliki fasilitas memadai seperti negatif presure. Fasilitas yang dipergunakan untuk isolasi merupakan peninggalan dari kasus-kasus sebelumnya.
"Pemerintah pun sampai sekarang belum menyediakan anggaran untuk perlengkapan maupun penambahan ruang ruang yang diperlukan," beber Wakil Ketua Fraksi (Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR.
Sejak pengumuman kasus pertama, kata Sukamta, kasus-kasus selanjutnya membuat publik bingung. Ditemukan beberapa kasus yang berubah hasil salah satunya pasien suspect asal Bekasi yang meninggal di Cianjur. Perubahan hasil ini menurut Sukamta akibat tidak tersedia standar Virus Transport Medium (VTM).
Padahal, persoalan manajemen sampel yang dikirim ke laboratorium merupakan hal krusial untuk menentukan status pasien. "Jika manajemen tidak sesuai standar bisa mengakibatkan hasil negatif palsu yaitu hasil negatif namun pada kenyataannya positif COVID-19," tegasnya.
Selain persoalan VTM, jumlah kasus terus bertambah secara signifikan setiap hari. Menurutnya, tiga lab yang ditunjuk pemerintah untuk memeriksa sampel tidak akan sanggup dan secara cepat memproses spesimen.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
