Jokowi-Prabowo Berpelukan, Gerindra: Jangan Ada Lagi Persekusi
Zulhamdi Yahmin
Jakarta
RILISID, Jakarta — Ketua DPP Partai Gerindra, Nizar Zahro, mengatakan, keakraban yang ditunjukkan Joko Widodo dan Prabowo Subianto saat menyaksikan pertandingan pencak silat di Asian Games 2018 juga harus berlanjut di kompetisi Pilpres 2019.
Menurut dia, sportivitas dan fair play yang diajarkan oleh kompetisi olahraga hendaknya bisa ditiru dalam proses demokrasi, salah satunya dengan tidak melakukan persekusi seperti yang dilakukan terhadap gerakan #2019GantiPresiden.
"Politik harus belajar pada olahraga. Kendati saling berkompetisi mereka mengedepankan asas fair play. Hoaks dan fitnah harus dihindari. Itu bumbu demokrasi yang sifatnya merusak," kata Nizar kepada rilis.id, Kamis (30/8/2018).
Perebutan kekuasaan, ujar Nizar, harus dilakukan secara konstitusional dan demokratis. Sehingga, tindakan-tindakan kasar dan kekerasan harus bisa dihindari.
"Tidak boleh juga sampai melakukan persekusi dan membubarkan diskusi. Itu bisa termasuk pembegalan demokrasi," ujar dia.
Nizar menilai, menjaga demokrasi sama dengan menjaga keberlangsungan Indonesia. Sebaliknya, membegal demokrasi dengan persekusi dan pembubaran diskusi sama saja menarik ulang gerak sejarah bangsa ke era Orde Baru.
"Tidak ada kekuasaan yang harus dipertahankan secara mati-matian. Dan tidak ada pula kekuasaan yang harus dikejar secara mati-matian. Yang terpenting kompetisi sesuai dengan jalur demokrasi," tegas Nizar.
"Persatuan harus dijunjung tinggi. Meskipun pilihan berbeda, tetap lah persatuan yang dikedepankan. Karena itu kedewasaan dalam berpolitik harus ditunjukkan dan dipraktekkan," pungkasnya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
