Eni Saragih Sebut, Ada Uang Suap Proyek PLTU Riau-1 untuk Munaslub Golkar
Anonymous
Jakarta
RILISID, Jakarta — Tersangka kasus dugaan suap pembangunan proyek PLTU Riau-1 Eni Maulani Saragih mengaku tahu, ada uang yang mengalir untuk penyelenggaraan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub). Menurutnya, uang peruntukan munaslub tersebut berasal dari uang sejumlah Rp2 miliar yang ia terima dari Johanes B Kotjo.
"Memang ada duit yang Rp2 miliar saya terima sebagian saya inikan untuk Munaslub," ujarnya di gedung KPK, Jakarta, Senin (27/8/2018).
Kendati begitu, Eni mengatakan, tak ada janji yang diberikan kepada Idrus oleh Kotjo terkait proyek PLTU Riau-1. Padahal, dalam konstruksi perkara KPK menduga Idrus menerima janji mendapatkan bagian yang sama seperti jatah Eni Saragih sebesar US$1,5 juta dari Kotjo bila proyek PLTU Riau-1 senilai US$900 juta itu jatuh ke tangan Kotjo.
"Enggak-enggak. Kalau itu enggak sampai ke sana," kata Eni.
Eni sendiri hari ini diperiksa sebagai saksi untuk Idrus Marham. Ia mengaku sudah mengenal lama Idrus sejak berada di KNPI hingga ke partai Golkar.
"Saya katakan ya, saya kenal dari sejak zaman KNPI sampai LPM sampai Golkar dan sebagainya, saya menceritakan semua hal itu," ujarnya.
Sementara itu, Mantan Ketua DPR Setya Novanto juga mengakui hal yang sama. Ia mengatakan, pernah mendengar adanya aliran uang ke kegiatan Munaslub Golkar. Namun, pria yang juga mantan Ketua Umum Golkar itu tak mengetahui detail jumlahnya.
"Ya saya dengar begitu," kata Setnov usai diperiksa.
Diketahui Idrus ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Ia diduga bersama-sama mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih menerima hadiah atau janji dari pemegang saham Blackgold Natural Recourses Limited Johannes B Kotjo.
Eni diduga menerima jatah sejumlah Rp6,25 miliar dari Kotjo secara bertahap sejak November 2017 sampai Juli 2018. Idrus disinyalir tahu soal pemberian uang tersebut.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
