Peta Jalan Pendidikan Islam dan Desain Masa Depan Peradaban
Fi fita
Bandar Lampung
Amanah kekhalifahan meniscayakan pengelolaan ilmu secara bertanggung jawab. Karena itu, pendidikan Islam tidak pernah netral nilai. Ia selalu membawa visi tentang kebaikan, keadilan, dan kemaslahatan.
Ketika pendidikan kehilangan orientasi etik, ilmu mudah berubah menjadi alat dominasi, eksploitasi, bahkan dehumanisasi.
Transformasi Etik, Intelektual, dan Peradaban
Dalam perumusan arah besar pendidikan Islam, pandangan dan orasi para pemangku kebijakan menjadi rujukan penting untuk membaca tantangan sekaligus peluang ke depan.
Salah satu pemikiran strategis yang patut dicermati adalah orasi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc., yang menempatkan pendidikan Islam dalam kerangka transformasi etik, intelektual, dan peradaban.
Orasi tersebut memotret problem actual dan juga menawarkan horizon pemikiran tentang bagaimana pendidikan Islam seharusnya mengambil peran di tengah perubahan global.
Pertama, Menata Ulang Relasi Agama dan Ilmu Pengetahuan. Tantangan pendidikan Islam saat ini antara lain adalah masih kuatnya anggapan bahwa agama berseberangan dengan ilmu pengetahuan.
Padahal, sejarah Islam justru menunjukkan bahwa tradisi keilmuan tumbuh dari kesadaran religius yang memandang pencarian ilmu sebagai bagian dari tanggung jawab moral.
Karena itu, relasi agama dan sains perlu ditata ulang secara konstruktif. Agama tidak seharusnya diposisikan sebagai lawan rasionalitas, melainkan sebagai sumber nilai dan arah etis bagi pengembangan ilmu.
Ilmu memberi kemampuan memahami dan menguasai realitas, sementara agama memberi orientasi tentang tujuan dan makna penggunaannya.
Uin ril
universitas Islam Negeri lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
