Mas, Yay, Bli, Koh
Tampan Fernando
Bandar Lampung
“Koh, semen yang ini belum rata!”
Mas. Yay. Bli. Koh.
Empat sapaan. Empat latar budaya. Di perumahan kecil ini tinggal warga Jawa, Bali, Lampung, hingga keturunan Tionghoa.
Dan saya? Satu-satunya orang Batak. Uniknya, tak ada yang pernah memanggil saya “Lae”. Hehe.
Namun justru di situlah saya melihat sesuatu yang lebih besar dari sekadar sapaan.
Tak ada yang sibuk menegaskan identitas. Tak ada yang merasa lebih asli, lebih dulu tinggal, atau lebih berhak atas lingkungan ini.
Panggilan itu bukan sekadar penanda asal-usul, melainkan cara untuk mendekat.
Identitas tak menjadi tembok, melainkan jembatan kecil yang menghubungkan satu tangan dengan tangan lainnya.
Gotong royong malam itu memang menambal jalan. Tapi lebih dari itu, ia seperti menambal jarak-jarak halus yang kadang tanpa sadar tercipta di antara perbedaan.
Di zaman ketika isu identitas kerap memanas, ketika perbedaan mudah sekali dibenturkan, peristiwa kecil di jalan kompleks ini terasa seperti oase.
Tampan Fernando
opini Rilisid
kerukunan
keberagaman
Tampan Fernando Hasugian
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
