Mas, Yay, Bli, Koh
Tampan Fernando
Bandar Lampung
RILISID, Bandar Lampung — Suatu malam menjelang Ramadan, sekitar 40 bapak-bapak di Perumahan Anugrah Alam Residen, Lampung Selatan berkumpul dan berjalan pelan menuju satu titik yang sama.
Di tangan mereka ada cangkul, parang, sekop, hingga papan kayu. Bukan hendak ribut. Bukan pula ronda.
Mereka datang untuk satu urusan sederhana: memperbaiki jalan rusak dan berlubang menuju komplek perumahan.
Di bawah penerangan seadanya, pekerjaan dimulai. Ada yang sibuk mengaduk semen, ada yang meratakan pasir, ada yang menyusun batu, ada yang bertugas mengangkat air.
Yang lain mengatur campuran agar tak terlalu encer. Beberapa bapak juga menyiapkan kopi panas dan camilan. Tawa kecil sesekali pecah, mengalahkan suara gesekan sekop dan denting batu.
Semua bekerja tanpa aba-aba panjang. Tanpa proposal. Tanpa panitia resmi.
Yang menarik, di tengah hiruk-pikuk itu, terdengar panggilan-panggilan yang terasa akrab sekaligus beragam.
“Mas, tolong ambilkan air!”
“Yay, papan itu geser sedikit!”
“Bli, semennya ditambahin!”
Tampan Fernando
opini Rilisid
kerukunan
keberagaman
Tampan Fernando Hasugian
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
