Dampak Perang Iran-AS bagi Lampung, Ini Tanggapan Guru Besar Ekonomi Publik Unila Profesor Nairobi

Yudha Priyanda

Yudha Priyanda

Bandar Lampung

1 April 2026 15:56 WIB
Perspektif | Rilis ID
Guru Besar Ekonomi Publik Universitas Lampung, Profesor Nairobi. Foto: Ist
Rilis ID
Guru Besar Ekonomi Publik Universitas Lampung, Profesor Nairobi. Foto: Ist

Lebih baik program sedikit lebih lambat tetapi berkelanjutan, daripada agresif di awal lalu tersendat karena keterbatasan anggaran dan masalah implementasi.

Untuk Lampung, kombinasi kebijakan ini punya dua wajah. Di satu sisi, efisiensi perjalanan dinas dan WFH menekan sektor hotel dan jasa yang selama ini menggantungkan diri pada belanja pemerintah.

Di sisi lain, keberhasilan menjaga defisit di bawah 3 persen dan menahan harga BBM melindungi rumah tangga dan pelaku usaha dari lonjakan biaya energi yang bisa jauh lebih merusak.

Karena itu, kuncinya bukan menolak efisiensi, melainkan menata ulang prioritas. 

“Penyesuaian frekuensi MBG dan kapasitas KMP di tingkat nasional dapat dikombinasikan dengan kebijakan daerah Lampung yang proaktif mendorong pasar MICE non-pemerintah, menguatkan pariwisata, serta memanfaatkan MBG–KMP untuk menghidupkan koperasi, petani, dan UMKM lokal. Dengan demikian, disiplin fiskal tetap terjaga, sementara manfaat ekonomi dan sosial program tetap mengalir ke masyarakat,” tutupnya. (*)

Menampilkan halaman 3 dari 3
Prev

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Agus Pamintaher
Tag :

Bandar Lampung

Lampung

Ekonomi

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya