Alam, Manusia, dan Bencana
lampung@rilis.id
RILISID, — AKHIR-AKHIR ini bencana alam menjadi kemasan berita yang kita konsumsi setiap saat, sampai pada transisi pergantian tahun.
Pada pertengahan tahun lalu (2019), kebakaran hutan terjadi di berbagai titik akibat kemarau panjang.
Asap tebal di mana-mana, sampai bersemayam di dalam tubuh dan menjadi momok pada kesehatan tubuh.
Lalu, selanjutnya kita dikejutkan oleh populasi ular yang meningkat drastis.
Kemudian pada transisi pergantian tahun, banjir menghiasi bursa berita teratas serta tag pada pencarian di beberapa sosial media.
Jakarta, kota bergengsi yang dianggap ideal dengan fasilitas yang maju serta ikon dari kota hiburan dan bisnis pun takluk oleh kekuasaan alam.
Menurunnya polulasi musuh alami dan transisi pergantian musim hanya segelintir contoh yang berimbas pada terganggunya tatanan ekosistem.
Puncak musim hujan 2019/2020 di 342 Zona Musim (ZoM) diprakirakan umumnya terjadi pada Januari 2020 sebanyak 128 ZoM (37,4 persen) dan 115 ZoM di Februari 2020 (33,6 persen).
Berikutnya, Maret 2020 sebanyak 10 ZoM (2,9 persen), 6 ZoM di April 2020 (1,8 persen), 12 ZoM di Mei 2020 (3,5 persen), dan 10 ZoM di Juni 2020 (2,9 persen).
Data tersebut berasal dari website resmi BMKG. Dapat dilihat puncak musim hujan akan terjadi pada bulan Januari-Febuari.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
