Sulam Usus Lamsel: Dikirim ke Jepang, Dipesan Artis Iis Dahlia
lampung@rilis.id
Lampung Selatan
Eva mengatakan, usaha sulam usus ini ia geluti sejak masih gadis.
Perempuan Lampung berusia 45 tahun ini mengaku belajar merajut kain sulam usus dari Herwan, kakaknya yang pernah dididik oleh maestro sulam usus, Aan Ibrahim.
“Bahkan pernah dikursuskan di Jakarta sama Bang Aan,” kata istri dari Darwansyah ini.
Merintis dari membuat taplak meja sulaman kain satin yang dipilin membentuk tali (menyerupai usus), perempuan lulusan SMA ini mulai menerima pesanan untuk membuat kebaya.
Ketika pesanan mulai tak tertampung, ia mulai meminta bantuan kepada kerabat dekat. Lalu, jumlah ibu-ibu yang terlibat semakin banyak dan meluas.
“Sekarang, kalau 200 orang mah lebih dari 10 desa sekitar sini. Masing-masing desa ada koordinatornya," kata ibu tiga anak ini.
Menurut dia, koordinator inilah yang membagi pekerjaan ke anak buahnya.
"Satu baju itu bisa dikerjain enam orang,” ujarnya seraya menyebut nama Desa Margadai, Simpangagung, Sinarrejeki, Sumberjaya, Komando (Margorejo), Sosial, Gedungdalem, Gedungagung, dan Banjaragung.
Meski sudah beromset sekitar Rp200 juta per bulan, hingga kini usaha Eva belum berbentuk badan hukum, bahkan tanpa merek.
Namun, atas dasar kepercayaan dan reputasinya yang teruji, PTPN VII sebagai BUMN yang peduli kepada pelaku usaha kecil terus memberi dukungan.
PTPN VII
rilis
Sulam Usus Eva
Mitra Binaan PTPN VII
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
