Sulam Usus Lamsel: Dikirim ke Jepang, Dipesan Artis Iis Dahlia
lampung@rilis.id
Lampung Selatan
RILISID, Lampung Selatan — Di meja kayu pendek, Rahmi (36) berbagi ruang dengan Rafita (21).
Di teras rumah sederhana Desa Margodadi, Kecamatan Jatiagung, Lampung Selatan, dua perempuan ini fokus kepada selembar kertas kising cokelat berpola batik bunga-bunga.
Suara lagu dangdut dari smartphone terus mengisi ruang dengar sebagai pelepas penat.
“Oh, Bu Eva. Itu mah bos kami. Bos sulam usus. Yang kami kerjain ini dari dia. (Rumahnya) nggak jauh lagi, Desa Simpangagung, pinggir jalan kok. Bapak mau ngambil pesanan, ya?”
Kalimat itu meluncur deras saat seorang pengendara SUV turun menanyakan alamat Eva Herawati kepada dua wanita penyulam itu.
Obrolan spontan ini memberi kesan reputasi Eva sudah sangat kondang sebagai penyokong ekonomi warga desa-desa sekitarnya.
Kerajinan sulam usus yang digeluti Eva sejak 20 tahun lalu itu menjadi salah satu pintu rezeki mereka.
Menyinggahi rumah Eva memang tidak ada kesan sebagai pengusaha.
Satu ruang paviliun ukuran 3 x 3 meter di serambi kanan dengan dua lemari kaca dan onggokan kain-kain sulam usus dan gulungan tali berbahan kain tersampir di besi penggantung.
Empat gadis belia bersimpuh pada ambal menarikan jari-jari lentiknya memasang mote-mote pada rajutan sulam usus yang sudah berpola.
PTPN VII
rilis
Sulam Usus Eva
Mitra Binaan PTPN VII
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
