Implementasi Inovasi Balitbangtan Mampu Turunkan Losses Cabai
Elvi R
Jakarta
RILISID, Jakarta — Cabai merupakan komoditas hortikultura yang seringkali menimbulkan gejolak harga di pasaran dan sebagai salah satu penyumbang inflasi. Salah satu permasalahan dalam distribusi cabai adalah tingginya tingkat kehilangan hasil (losses) cabai yang secara akumulasi dari panen sampai ke pasar mencapai 20-30 persen. Dari produksi cabai nasional berkisar 1 juta ton per tahun, maka ada lebih dari 200 ribu kilogram buah cabai yang tidak termanfaatkan. Jumlah yang sangat banyak, dan mendatangkan banyak kerugian.
Balitbang Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Litbang Pascapanen bekerja sama dengan ASEAN, telah berhasil menurunkan tingkat losses cabai merah dari awal 20-30 persen menjadi 3-5 persen. Implementasi teknologi yang dipilih merupakan teknologi sederhana yang dapat langsung diaplikasikan di tingkat kelompok tani/gapoktan.
Menurut salah satu penelitinya, S.M. Widayanti, langkah pertama yang dilakukan adalah memperpendek rantai pasok. Langkah ini terbukti dapat mengurangi losses menjadi 8,9 persen. Berikutnya pengenalan bagan warna cabai sebagai indikator saat panen cabai yang tepat, sehingga cabai yang dipanen warnanya seragam dan akan mengurangi penolakan cabai oleh pengepul, yang mensyaratkan warna merah cabai di atas 50 persen. Tahap selanjutnya, mengganti penampung cabai saat panen dari karung bekas pupuk dengan krat plastik, serta memisahkan cabai merah yang rusak.
Penerapkan teknologi ozonisasi untuk membunuh mikroorganisme pembusuk sebelum cabai didistribusikan, dan penggunaan kemasan bok kardus berlobang dengan kepadatan cabai diatur dalam transportasinya, dapat menekan kerusakan cabai seperti busuk dan patah, ungkap Widayanti.
Penggunaan transportasi berpendingin sangat membantu untuk mencegah kerusakan cabai, meski biaya transportasinya sedikit lebih mahal. Untuk pengiriman cabai dari Magelang ke Jakarta, dengan kendaraan berpendingin Rp1000 per kilogram, bila tanpa pendingin Rp750 per kilogram. Harga tersebut cukup kompetitif karena tingkat kerusakannya sangat kecil, ujar Widayanti pada awak media. Cabai yang sudah diberi perlakuan ozon akan meningkatkan harga Rp2.000-RP3.000 per kilogram lebih mahal dibandingkan cabai tanpa perlakuan, karena tampilannya lebih bagus dan daya simpan lebih lama, pungkasnya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
