Harga Kedelai Rp9.600, Pengusaha Tempe Pilih Kecilkan Ukuran Daripada Naikkan Harga
lampung@rilis.id
Bandarlampung
RILISID, Bandarlampung — Para pengusaha tempe masih mengaku kewalahan karena harga kedelai impor yang dinilai masih cukup tinggi. Merekapun terpaksa melakukan beberapa strategi, supaya pembeli tidak kabur.
Menurut Dwi, salah satu pengusaha tempe yang ditemui Rilislampung.id pada Kamis (4/2/2021) pagi di Pasar Tugu, Bandar Lampung mengatakan, harga masih cukup tinggi.
“Harganya juga tidak stabil, beberapa waktu lalu sempat turun di harga Rp8.500, kalau sekarang naik lagi di harga Rp9.600 perkilogramnya. Dapat harga segitu juga karena ambil di koperasi dari bantuan subsidi pemerintah. Kalau beli di pasar atau toko, harganya bisa sampai Rp10.000 perkilogram,” papar Dwi.
Demi tetap mempertahankan pelanggan, Dwi terpaksa memilih memperkecil ukuran dan mengurangi sedikit kedelai dalam produksi tempenya, daripada menaikkan harga.
"Tapi ya dikit kok. Tetap untung juga, walau juga sedikit, yang penting pembeli tidak kabur, karena kalau harga dinaikkan pasti pembeli protes," ungkap Dwi lagi.
Penjual tempe lain di Pasar Tugu, Asep, mengatakan melakukan hal serupa dengan Dwi.
"Harga tempe masih normal Rp2.000 perbungkus, cuma lebih kecil aja ini dari yang biasanya. Pembeli tetep banyak karena lauk yg murah meriah dan yang banyak gizi ya tempe ini," papar Asep lagi.
Sementara itu, dilansir dari Bisnis.com, Kementerian Perdagangan (Kemendag) memperkirakan harga kedelai impor di tingkat pengusaha tahu dan tempe pada Februari 2021, berada di kisaran Rp9.500 perkilogram, seiring naiknya harga kedelai dunia. Harga ini lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata harga pada Januari 2021 yang berkisar Rp9.100 sampai Rp9.200 perkilogram. (*)
Laporan: Dora Afrohah
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
