Doktor Balitbangtan Temukan Empat Galur Baru Padi Rawa
Elvi R
Bogor
RILISID, Bogor — Peneliti Balitbangtan, Rina Hapsari Wening, menemukan empat galur baru padi toleran lahan rawa lebak. Hasil riset itu membuat Rina berhak menyandang gelar doktor dari program S-3 Institut Pertanian Bogor.
"Saat ini sawah di lahan kering semakin sempit sehingga pengembangan padi di lahan rawa tidak dapat dihindari," kata Rina pada sidang Promosi Doktor di Institut Pertanian Bogor, Jumat (13/3/2020).
Menurut Rina, pengembangan padi di lahan rawa menghadapi kendala berupa genangan air pada musim hujan sekaligus cekaman kekeringan pada musim kemarau. "Harus ditemukan lebih banyak lagi varietas padi yang tepat yang mampu berproduksi tinggi pada kondisi itu," kata Rina.
Rina mengamati ada 18 galur yang toleran cekaman rendaman dan tujuh galur toleran cekaman kekeringan. Rina mengamati secara fenotipe dan kemudian terkonfirmasi dengan molekuler.
Dari riset itu Rina memperoleh empat galur yang memiliki toleransi ganda. "Toleran cekaman rendaman pada fase vegetatif dan toleran kekeringan pada fase generatif," kata Rina.
Toleransi ganda itu membuat keempatnya berpeluang dikembangkan di lahan rawa lebak. "Saya optimis keempat galur itu dapat diterima dan dimanfaatkan petani karena menggunakan tetua unggul yang sesuai prefensi petani," tutur Rina.
Prof. Dr Ir. Hasil Sembiring, Liaison IRRI-Indonesia mengapresiasi penelitian Rina karena membantu pemerintah mengatasi persoalan pangan di Indonesia.
Rina juga berhasil memberi informasi penting terkait aksi gen epistasis untuk karakter toleransi rendaman dan kekeringan serta pengaruh tetua betina pada karakter produksi. "Itu dapat menjadi acuan untuk seleksi dan pemilihan tetua betina pada perakitan varietas padi toleran pada lahan rawa lebak," kata Rina.
Sukses Rina menambah kekuatan Badan Litbang Penelitian dan Pengembangan Pertanian karena menambah personil perempuan bergelar doktor.
Wanita kelahiran Purwokerto itu sehari-hari bertugas sebagai Peneliti Pemuliaan di BB Padi.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
