Balitbangtan Contohkan Tata Kelola Air Cerdas di Demfarm Jejangkit Kalsel

Elvi R

Elvi R

Jakarta

13 Oktober 2019 11:31 WIB
Bisnis | Rilis ID
Tata kelola air di Demfarm Jejangkit. FOTO: Humas Balitbangtan
Rilis ID
Tata kelola air di Demfarm Jejangkit. FOTO: Humas Balitbangtan

RILISID, Jakarta — Di lahan rawa, tata kelola sumber daya air merupakan kunci utama keberhasilan optimalisasi pemanfaatan lahan untuk usaha pertanian berproduksi tinggi. Jika tidak dikelola dengan cerdas dan bijak, air pada lahan rawa tipe pasang surut (rawa pasut), air yang memang diperlukan tanaman dapat berubah menjadi faktor utama yang membatasi produksi dan produktivitas pertaniani. Sesuai dengan sifat dinamika airnya, pada lahan rawa pasut memungkinkan terjadinya banjir pada saat pasang (tipologi A dan B) dan kekeringan pada saat surut (tipologi B, C, D) yang dapat mengakibatkan kegagalan panen. 

Lahan rawa pasut merupakan lahan rawa pelu penanganan tata kelola air khusus apalagi tanahnya tergolong sulfat masam. Tata kelola air yang buruk pada tanah ini menyebabkan penurunan kualitas air yang ditunjukan oleh tingkat kemasaman air tanah yang tinggi di lahan pertanian masam sulfat. 

Tata kelola air merupakan kegiatan utama yang wajib dilaksanakan dan dimonitor khusus agar lahan rawa dapat dimanfaatkan lebih optimal, produksi pertanian bertambah, dan kesejahteraan petani meningkat. 

Seiring dengan implementasi program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI), pada 2019 ini, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) mengembangkan demfarm di dua lokasi lahan rawa yaitu, Muara Telang, Banyuasin, Sumatera Selatan, dan Jejangkit, Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Di Demfarm Jejangkit, Balitbangtan menunjukan contoh teknologi optimalisasi pertanian lahan rawa pasut pada lahan pertanian seluas kurang lebih 65 hektar. Diinformasikan sebelumnya, wilayah Jejangkit ini merupakan lahan tidur yang sudah lebih dari 12 tahun tidak diusahakan untuk pertanian karena merupakan daerah banjir sungai Alalak. 

Berdasarkan kondisi eksisting ini, desain tata kelola air irigasi merupakan hal utama yang harus dilakukan sebelum penerapan aplikasi teknologi budidaya pertanian Balitbangtan. 

Teknologi optimalisasi tata kelola sumber daya air pasut demfarm Jejangkit meliputi: teknologi desain ulang sistem irigasi dengan penerapan sistem irigasi sisir, teknologi desain saluran tersier baru (total 9 saluran dengan dimensi rata-rata 280 x 1,2 x 1,5 meter), teknologi desain tanggul saluran eksisting, dan (4) teknologi design pintu-pintu tabat sistem elbow PVC (TASEL) pada tanggul saluran sekunder dan tersier. Keemlat teknologi rancangbangun ini yang tergolong paket teknologi tatakeloa air cerdas lahan rawa dapat dilihat di Demfarm Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan.

Manfaat dari tatakelo dengan rancangbangun di lahan eksisting ini yaitu sistem sisir yang dilengkapi dengan pintu TASEL adalah dapat memperlancar distribusi keluar masuk nya air irigasi dari saluran ke lahan (tata kelola air mikro). Dampak dari tatakelola ini adalah ketersediaan air untuk tanaman lebih terjaga sebagai media pertumbuhan tanaman, tercucinya zat-zat beracun (Fe2O, pirit) yang terkandung di tanah sulfat masam, terbentuknya tempat penyimpanan air irigasi (long-storage) untuk musim kering melalui pompanisasi, dan terhindarinya banjir banjir pada saat pasang di musim penghujan. 

Monitoring tata air juga dicontohkan melalui pengamatan hidrodinamika lahan rawa pasang surut demfarm Jejangkit. Contoh-contoh instrumen perekam data tinggi muka air (kuantitas air) di lahan, saluran, dan sungai Alalak; dan perekam data pH (kualitas air) di saluran dapat diamati di areal demfarm dan dapat diterapkan juga di wilayah lain. 

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya