Sejarah Kota Bandar Lampung, Kini Berusia 343 Tahun
Tampan Fernando
Bandar Lampung
Penetapan tersebut juga diperkuat melalui Simposium Hari Jadi Kota Tanjungkarang-Telukbetung pada 18 November 1982 dan Perda No. 5 Tahun 1983.
Keberagaman Suku dan Budaya
Kota Bandar Lampung mencerminkan wajah Indonesia dalam keberagamannya. Etnis Jawa, Lampung, Sunda, Palembang, Melayu, Minangkabau, Tionghoa, Batak, dan lainnya hidup berdampingan di sini.
Suku asli daerah ini adalah Suku Lampung dan Suku Melayu. Suku Lampung banyak ditemui di seluruh provinsi, sementara Suku Melayu (Saibatin) lebih dominan di wilayah perbatasan dan pesisir.
Bahasa yang digunakan sehari-hari pun beragam, mulai dari bahasa Indonesia, Lampung, Jawa, Sunda, Palembang, Minang, hingga Batak.
Keberagaman Agama
Bandar Lampung juga dikenal sebagai kota yang toleran. Mayoritas penduduk (sekitar 93,57%) beragama Islam. Selain itu, terdapat pemeluk Protestan (3,31%), Katolik (1,60%), Buddha (1,24%), Hindu (0,28%), dan Kong Hu Cu (<0,01%), yang sebagian besar dianut oleh komunitas Tionghoa dan pendatang. (*)
HUT Bandar Lampung
sejarah Bandar Lampung
sejarah kota
Tanjungkarang
Telukbetung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
