Kata Psikiater, Bullying Bisa Sebabkan Depresi pada Anak

Zulhamdi Yahmin

Zulhamdi Yahmin

Jakarta

22 Juni 2019 21:30 WIB
Ragam | Rilis ID
Sejumlah anak asik membaca buku di Taman Baca Kolong Jembatan, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (16/3/2018). FOTO:RILIS.ID
Rilis ID
Sejumlah anak asik membaca buku di Taman Baca Kolong Jembatan, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (16/3/2018). FOTO:RILIS.ID

RILISID, Jakarta — Konsultan psikiatris, Dr Margarita Maramis, mengatakan, bullying atau perundungan terus-menerus yang dilakukan pada anak bisa menyebabkan depresi.

"Secara normal, jika kita terus dibully (rundung) membuat seseorang menjadi cemas. Lama kelamaan cemas itu bisa membuat remaja menjadi depresi," ujar Margarita dalam simposium regional Lundbeck di Jakarta, Sabtu (22/6/2019).

Oleh karena itu, Margarita meminta orang tua untuk peduli dengan kondisi anak. Pasalnya, kecemasan menjadi salah satu pemicu depresi yang jarang disadari. Apalagi saat ini, perundungan tidak hanya secara langsung melainkan juga melalui siber.

Margarita juga meminta orang tua mampu mengenali kondisi anak, apalagi jika anak sampai mengalami trauma. Selain perundungan, penyebab masalah remaja lainnya seperti putus cinta.

"Trauma satu kali, dua kali atau berkali-kali penting untuk diketahui dan secepat mungkin harus diatasi trauma itu. Bisa melalui curhat ataupun ke psikolog untuk tahap awal," ujarnya. 

Depresi merupakan suatu kondisi medis yang dapat dikategorikan menjadi tiga jenis gejala, yakni gejala terkait suasana hati (suasana hati yang buruk, minat yang rendah, kecemasan, motivasi yang rendah, dan lainnya), gejala kognitif (gangguan konsentrasi, kesulitan dalam membuat rencana, pelupa, lambat dalam menanggapi dan bereaksi, dan lainnya), gejala fisik (nyeri, gangguan tidur, gangguan nafsu makan, dan lainnya).

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Dr Eka Viora SpKJ, menjelaskan bahwa banyaknya stigma yang beredar terhadap depresi menghalangi para penderitanya mendapatkan dukungan yang tepat.

Stigma tersebut menghambat orang dengan depresi untuk mencari dukungan yang mereka butuhkan untuk bisa menjalani kehidupan kembali secara normal.

"Depresi lebih sering dilihat sebagai aib daripada penyakit karena berkenaan dengan kesehatan mental, bukan fisik," ucapnya. 

Eka juga bersama dengan rekan-rekannya sedang berusaha meningkatkan kesadaran bahwa depresi adalah penyakit sebagaimana penyakit lainnya. Orang dengan gangguan depresi bisa pulih sepenuhnya dan penderitanya juga seharusnya bisa tanpa ragu-ragu mencari dukungan dan pengobatan.

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya